About

Wednesday, April 6, 2016

cerpen Don't talk with me




          seperti biasa, setelah cerbung berakhir akan ada jeda untuk menunggu cerbung selanjutnya jadi di story ini saya akan berusaha membuat cerpen yang cukup greget kaya anime romance yang endingnya gantung. Story ini adalah hasil karya saya setelah sebelumnya “Legend of the Faintoiu” yang merupakan story pertama saya sampai “Steven Hudson Helsing” yang baru saja tamat. oh iya, ini hanya story pelengkap saja yang saya beri judul don’t talk with me dalam episode “aku takkan melupakanmu”.
Sudahlah langsung saja masuk ke story ini.


Aku Takkan melupakanmu
Aku berjalan di sebuah trotoar jalan dan tanpa sengaja aku menabrak seorang wanita hingga membuatnya terjatuh, aku tak tahu siapa dia tapi yang pasti ‘dia cantik sekali’ itulah yang aku fikirkan, aku mencoba membantunya berdiri dan meminta maaf tapi dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Esok hari, aku berjalan ke sebuah mini market yang tidak jauh dari rumah, kali ini dia yang menabrakku dari belakang tapi dia seperti tak memperdulikanku yang terjatuh, ‘apakah dia sengaja ?’ bisa jadi tapi apa untungnya juga buat dia !?
Aku tak begitu mempermasalahkannya mungkin ini hanya kebetulan saja.
            Aku terus berfikir kenapa dia melakukannya, sepertinya dia bukanlah orang jahat hanya saja mungkin dia malu meminta maaf tadi, entah mengapa semalaman aku hampir tak bisa tidur dan terus memikirkannya namun aku sadar kalau aku bukanlah siapa-siapa dan tidak mungkin kalau aku berteman dengannya. Kejadian yang sudah terjadi hanya kebetulan saja tapi terasa sangat janggal bagiku karena kejadian yang tak disengaja itu atau mungkin itu sudah disengaja.
            Pulang sekolah, aku mempir dulu ke mini market lagi untuk membeli sesuatu dan tanpa kusadari disaat aku hendak mengambil sesuatu, wanita itu ada di depanku, seolah tak pernah terjadi apa-apa dia berjalan begitu saja, aku ingin menyapa dan berkenalan dengannya tapi dia sudah menghilang begitu saja.
            Mungkin itu hanya kebetulan, tapi kenapa ? sudah tiga kali aku bertemu dengannya dan perasaan apa ini, setiap kali bertemu dengannya entah mengapa aku seolah tak mampu berkata-kata bahkan berkenalan pun serasa sangat sulit. Mungkin kalau aku bertemu lagi dengannya aku akan langsung berbicara tanpa ragu lagi, tapi kapan ? aku tidak tahu.
            Dihari selanjutnya, sepulang sekolah aku menunggu dia di depan mini market berharap dia datang lagi atau setidaknya dia berjalan melewati mini market ini. Aku berharap dan menunggu, sudah hampir dua jam aku menunggu dan aku putuskan untuk pulang saja tapi disaat aku hendak pergi aku berpapasan dengannya, aku memutar badanku dan berteriak kepadanya, dia berhenti dan berbalik.
“ee.. hai.. aku,, ak.. aku  ingin berkenalan denganmu,” tak ada respon darinya tapi aku berusaha menahannya sedikit lebih lama lagi
“namaku... Aris.. kalau kamu ?” dia seperti ingin menjawabnya tapi dia berbalik dan berjalan lagi.
Aku tak tahu kenapa dia seperti ini, apakah dia membenciku ?
            Dihari berikutnya aku mencoba berbicara denganya, tapi hasilnya selalu sama, dia pergi meniggalkanku. Aku tak mau menyerah begitu saja, aku terus berusaha untuk berbicara dengannya hingga akhirnya dia memberiku sepucuk kertas yang ia tulis tepat dihadapanku “aku tidak akan memberitahukan namaku,” aku tak tahu maksudnya, mungkin dia tidak ingin berteman denganku, dia menulis lagi “kau tidak akan senang berteman denganku”.
Aku berfikir, kalau aku menyerah sekarang maka aku tidak akan bisa melihatnya lagi, aku mengeluarkan buku dari tas dan menulis “tak apa jika kau tidak memberitahu namamu, tapi bertemanlah denganku.” dia hanya terdiam dan menunjuk mulutnya, aku mengelengkan kepala pertanda tidak mengerti, dia menulis kalau dia itu ‘tidak bisa berbicara’. Aku mengeluarkan buku lagi dan menulis kalau aku tidak peduli karena aku hanya ingin berteman saja.
Aku berhasil berteman dengannya, dan pertemanan kami berubah menjadi persahabatan karena kami selalu bersama dikala matahari mulai tenggelam dan hanya di sore hari kami menghabiskan waktu bersama, hanya langit petang yang selalu setia menemani kami.
Sudah sekitar tiga bulan kami bersama dan tak ada satu kata pun yang kami ucapkan setelah kami benar-benar berteman, kami hanya berkomunikasi melalui selembar kertas, walaupun kami duduk bersama tapi tak pernah saling berbicara bahkan menyapa pun tak pernah, hanya kertas dan pena yang menyatukan kami berdua.
Tiga bulan lebih dan selalu begitu, berbicara melalui kertas dan saling memandang langit petang yang indah berhiaskan warna jingga, tanpa kusadari semenjak aku menganalnya aku tak tahu namanya.
Apakah aku benar-benar sudah mengenalnya ?
            Pertemanan berubah menjadi persahabatan dan persahabatan kini berubah menjadi benih-benih cinta kelabu. Bagaimana ini bisa menjadi cinta, berbicara pun tak pernah, bahkan sampai saat ini aku belum mengetahui namanya. Apakah benar ini cinta, kalau pun benar aku tak akan menyesalinya karena mungkin dia adalah cinta pertamaku.
            Pagi hari aku menemukan sepucuk surat di depan pintu tanpa ada nama pengirimnya, aku membuka surat itu dan sepertinya aku mengenal tulisan tangan ini. Surat ini dari wanita itu, wanita yang aku cintai tapi kenapa ?
            Di dalamnya dia menulis kalau dia tidak akan bertemu denganku lagi, dia akan pindah dan dia memintaku untuk tidak melupakannya walaupun selama ini aku tidak tahu namanya, dibagian bawah dia menuliskan namanya.
Nama yang indah, tapi kenapa dia pergi setelah aku benar-benar menyukainya, mungkin kalau dulu aku tak memintanya berteman denganku, semua ini takkan terjadi.
Walaupun begitu, aku tak menyesalinya sama sekali. Terimakasih sudah menjadi sahabatku dan mengisi kekosongan hati ini.
Aku takkan melupakanmu walaupun tak pernah terucap satu katapun diantara kita, aku berharap kita dipertemukan lagi suatu hari nanti. Selamat tinggal dan sampai bertemu lagi, satu kata yang akan selalu mengingatkanku padamu “aku takkan melupakanmu”.

...TAMAT...

Story ini hanyalah fiktif belaka jadi mohon maaf bila ada kesamaan cerita dari story ini.
untuk kelanjutan dari story ini masih saya pertimbangkan.
terimakasih 



0 comments: