Aku terpaksa
tidak mengatakannya, tentang kejadian aneh yang aku dan sepupuku alami semalam.
Sepertinya Stella juga merasakan sesuatu yang aneh, sama seperti aku dan
sepupuku.
Death tone
Part
05 : Ada Apa Denganku ?
Aris
datang menemuiku dan Stella, dia berbisik padaku kalau aku tidak boleh
menceritakannya, aku mengangguk.
Aku terus memikirkan hal aneh yang terjadi semalam,
aku tidak memperdulikan Stella yang sedang bebicara denganku, aku tidak tahu
kenapa aku begini tapi pikiranku terus saja memikirkan gubuk tua dan piano itu
yang sebenarnya tidak ada, aku juga sering kali mendengar suara piano yang sama
persis dimainkan olehku kemarin, lantunan suaranya perlahan mulai mengelilingi
kepalaku.
“hei,,
hey.. Ikki, kamu dengar tidak ?” tanya Stella
“eh..
iya.. maaf, aku lagi banyak pikiran,” lirihku
“memangnya
kamu kenapa, apa yang sedang kamu pikirkan ?” tanya Stella lagi
“oh..
enggak kok, cuma masalah kecil,” jawabku mengelak
“sudahlah
jangan bohong padaku, aku tau kalau itu bukanlah masalah yang kecil bagimu,”
balasnya
“a..
aku mau ke.. ke toilet dulu,” ucapku sambil pergi meninggalkan Stella
Aku pergi menemui Aris di dalam rumah, aku meminta
dia untuk menemani Stella dulu karena aku sedang tidak fokus.
“hai,”
sapa sepupuku
“eh,
hai juga,” jawab Stella
Mereka berdua hanya diam tanpa berbicara sepatah
kata pun, mungkin mereka canggung dan sepertinya mereka tidak tahu harus
memulai dari mana.
Aku yang bersembunyi di dalam rumah, perlahan mulai
mengantuk hingga akhirnya aku tertidur, aku bermimpi tentang gubuk dan piano
itu. Aku tertidur begitu lama sampai tak terasa kalau hari sudah mulai petang.
Aku mempunyai firasat
untuk membawa piano itu kesini, tapi bagaimana caranya ? aku bahkan tidak tahu
dimana piano itu berada, aku segera menemui sepupuku untuk meminta bantuannya
lagi, tapi sepertinya dia menolak.
Aku terus berusaha
membujuknya tapi dia bersikeras tetap tidak mau, dan inilah pertengkaran
pertama kami, aku harus menemukan cara untuk bisa kembali ke tempat itu dan
membawa pianonya tapi apa yang harus ku lakukan ?
Aku mencoba untuk tenang dan mengikuti apa yang Aris
katakan walaupun itu bertentangan dengan keinginanku, aku tidak mencari piano
itu.
Hari-hari selanjutnya
aku terus menerus memikirkan piano yang kutinggalkan, bukan hanya itu tapi semenjak
hari itu pikiranku seperti tidak bisa berfikir dengan tenang, apa yang sudah
terjadi kepadaku !?
**-.-**
*sebulan kemudian*
*sebulan kemudian*
“Ikki,
kita bisa bicara sebentar ?” ucap Stella di telephone
“iya,
memangnya ada apa ?” jawabku
“tidak
ada apa-apa, aku hanya ingin mengobrol denganmu,” balasnya
“baiklah,
dimana tempatnya ?” tanyaku
“di
taman, di tempat biasa,” pinta Stella dan aku pun menyetujuinya.
Aku pergi menemui Stella di tempat biasa, lebih
tepatnya tempat pertama kali kami bertemu.
“hai,”
sapaku pada Stella yang sudah sampai duluan
“eh,,
kamu sudah datang, duduklah. Aku mau bicara,” suruh Stella
“baiklah,”
balasku sembari duduk disamping Stella
“belakangan
ini kita tidak terlalu banyak bertemu, bahkan mengobrol seperti ini pun sudah
sangat jarang kita lakukan,” ucapnya
“oh,
aku minta maaf,” balasku
“kenapa
kamu menghindar dariku ?” tanya Stella tiba-tiba
“hah,,
aku tidak menghindar,” jawabku
“lalu
kenapa kamu seperti tidak mau bertemu denganku ?” tanya dia lagi
“itu,,
aku..”
“apakah
aku melakukan kesalahan, sehingga kamu membenciku ?” tanya Stella memotong
perkataanku
“eh,,
itu tidak benar, aku..”
“kalau
semua itu salah, lalu kenapa saat aku pergi ke rumahmu, kamu selalu tidak ada,
padahal aku tahu kalau sebenarnya kamu itu berada di dalam rumah,” bentaknya
“sudahlah
Stella, aku tidak mau berdebat denganmu,” jawabku
“kalau
kamu tidak mau, maka jawab pertanyaanku tadi,”
“aku,,
aku tidak bisa mengatakannya,” jawabku
“baiklah,
kalau memang begitu, aku tidak akan menghubungimu lagi,” ucapnya lalu pergi
meninggalkanku.
Tidak ada yang bisa kulakukan lagi, kenapa aku
membiarkannya pergi, kenapa aku tidak mengatakannya, dan kenapa aku melakukan
semua ini.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan tidak menentu.
“bagaimana,
kalian bertengkar ?” ucap Aris tiba-tiba
“begitulah,”
jawabku lemas
“kenapa
loe membiarkan dia pergi ?”
“aku
tidak tahu,” ucapku lesu
“salahmu
juga sih, memangnya kenapa loe menghindar darinya ?” tanya sepupuku persis
seperti yang Stella tanyakan,
“kalian
bisa membicarakannya baik-baik, bukan seperti ini,” sambungnya
“diam,
aku tidak ingin membahasnya,” potongku
“loe
ini kenapa sih, kalau ada sesuatu yang mengganjal hatimu, loe bisa
mengatakannya padaku,”
“terimakasih,
tapi sekarang aku ingin sendiri dulu,” jawabku
“loe
itu bodoh, Stella khawatir padamu, dia selalu ke sini setiap hari untuk bertemu
dengan loe, tapi loe malah tidak ingin menemuinya,”
“diam,”
ucapku agak sebal
“apakah
karena dia punya salah, atau loe menyembunyikan sesuatu darinya, loe itu
pengecut, loe membuat seorang wanita khawatir lalu membuatnya menangis, loe
itu..”
“aku
bilang diam,” bentakku sambil memegang kerah bajunya
“loe
sudah berani melawan gua, sepupumu sendiri,” ucapnya dingin
Seketika aku tersadar, apa yang aku lakukan, kenapa
aku berani kepada Aris, sepupuku yang selama ini membantuku.
“hah,,
maaf,” sesalku sembari melepaskan tanganku,
Aku pergi ke kamar, tanpa berfikir panjang, malam
ini aku akan mencari piano dan gubuk tua misterius itu, aku akan melenyapkannya
dan berharap pikiran itu tidak mengahantuiku lagi,
*malam*
Aku mengeluarkan sepeda
motorku, aku pergi berharap bisa menemukan tempat itu lagi, aku pergi di jam
yang sama seperti saat itu, aku mengikuti arah jalan, sama seperti waktu itu,
tapi malam ini sama sekali tidak berkabut dan aku sama sekali tidak tersesat,
aku hanya berjalan-jalan dari desa ke desa dan aku tidak menemukan tempat
itu, hari semakin larut tapi aku masih
belum sampai di tujuanku, Aris menelphoneku dan menyuruhku untuk segera pulang,
aku rasa usahaku ini sia-sia dan gagal total, aku putuskan untuk melanjutkannya
besok malam.
‘,’ ‘,’ ‘,’ ‘,’ ‘,’
*disisi lain, disaat aku pergi*
Aris pergi menemui Stella.
“loe
merasakannya ?”
“merasakan
apa ?”
“ada
yang aneh dengan Ikki,” ucap sepupuku
“aku
tidak peduli,” jawab Stella cepat
“walau
bagaimana pun, Ikki adalah sepupu gua, gua punya satu permintaan untukmu,” ucap
Aris pada Stella
“apa
?” jawab Stella ragu
“bantu
gua menyelidiki apa yang terjadi pada Ikki, dan apa penyebabnya,” pinta Aris
“apa
untungnya buatku, dia bahkan sudah tidak peduli lagi denganku,” jawab Stella
“gua
tidak tahu, tapi apakah loe tega melihat Ikki terus-terusan begitu ?” tawar
Aris
“ak..
aku sudah bilang kalau aku tidak peduli,” jawab Stella sedikit agak ragu
“baiklah,
tapi asalkan loe tahu, sebenarnya Ikki itu menyukaimu,” ucap Aris blak-blakan
“hah..”
“gua
yakin kalau loe juga mempunyai perasaan yang sama sepertinya,”
“itu..
kamu jangan menipuku,” ucap Stella mulai
terpancing oleh ucapan sepupuku
“gua
tidak berbohong, gua yakin kalau sebenarnya loe itu masih sangat peduli dengan
Ikki,” ucap Aris
Stella terdiam sejenak,
“apa
yang bisa aku lakukan untuk membantu Ikki ?” ucap Stella pelan bercampur ragu
“baiklah,
sudah diputuskan.” Ucap Aris sedikit tersenyum
“apa
maksudmu ?”
“kita
akan mencaritahu apa yang menjadi pemicunya,” jawab Aris
“aku
tidak mengerti apa maksudmu,” ucap Stella
“loe
tidak harus mengerti, tapi loe harus memahami situasinya,” sambung Aris
“apa
aku bisa melakukan itu, apakah aku bisa membantu ?”
“tentu
saja, loe itu adalah kunci yang dimiliki oleh Ikki. Stella, rubahlah Ikki
kembali seperti sebelumnya !” ucap Aris percaya diri
To
Be Continued...






0 comments:
Post a Comment