About

Thursday, June 30, 2016

DEATH TONE part 05 (ada apa denganku ?)



 Aku terpaksa tidak mengatakannya, tentang kejadian aneh yang aku dan sepupuku alami semalam. Sepertinya Stella juga merasakan sesuatu yang aneh, sama seperti aku dan sepupuku.


Death tone
Part 05 : Ada Apa Denganku ?
          Aris datang menemuiku dan Stella, dia berbisik padaku kalau aku tidak boleh menceritakannya, aku mengangguk.
Aku terus memikirkan hal aneh yang terjadi semalam, aku tidak memperdulikan Stella yang sedang bebicara denganku, aku tidak tahu kenapa aku begini tapi pikiranku terus saja memikirkan gubuk tua dan piano itu yang sebenarnya tidak ada, aku juga sering kali mendengar suara piano yang sama persis dimainkan olehku kemarin, lantunan suaranya perlahan mulai mengelilingi kepalaku.
          “hei,, hey.. Ikki, kamu dengar tidak ?” tanya Stella
          “eh.. iya.. maaf, aku lagi banyak pikiran,” lirihku
          “memangnya kamu kenapa, apa yang sedang kamu pikirkan ?” tanya Stella lagi
          “oh.. enggak kok, cuma masalah kecil,” jawabku mengelak
          “sudahlah jangan bohong padaku, aku tau kalau itu bukanlah masalah yang kecil bagimu,” balasnya
          “a.. aku mau ke.. ke toilet dulu,” ucapku sambil pergi meninggalkan Stella
Aku pergi menemui Aris di dalam rumah, aku meminta dia untuk menemani Stella dulu karena aku sedang tidak fokus.
          “hai,” sapa sepupuku
          “eh, hai juga,” jawab Stella
Mereka berdua hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun, mungkin mereka canggung dan sepertinya mereka tidak tahu harus memulai dari mana.
Aku yang bersembunyi di dalam rumah, perlahan mulai mengantuk hingga akhirnya aku tertidur, aku bermimpi tentang gubuk dan piano itu. Aku tertidur begitu lama sampai tak terasa kalau hari sudah mulai petang.
Aku mempunyai firasat untuk membawa piano itu kesini, tapi bagaimana caranya ? aku bahkan tidak tahu dimana piano itu berada, aku segera menemui sepupuku untuk meminta bantuannya lagi, tapi sepertinya dia menolak.
Aku terus berusaha membujuknya tapi dia bersikeras tetap tidak mau, dan inilah pertengkaran pertama kami, aku harus menemukan cara untuk bisa kembali ke tempat itu dan membawa pianonya tapi apa yang harus ku lakukan ?
Aku mencoba untuk tenang dan mengikuti apa yang Aris katakan walaupun itu bertentangan dengan keinginanku, aku tidak mencari piano itu.
Hari-hari selanjutnya aku terus menerus memikirkan piano yang kutinggalkan, bukan hanya itu tapi semenjak hari itu pikiranku seperti tidak bisa berfikir dengan tenang, apa yang sudah terjadi kepadaku !?
**-.-**

*sebulan kemudian*
 
          “Ikki, kita bisa bicara sebentar ?” ucap Stella di telephone
          “iya, memangnya ada apa ?” jawabku
          “tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengobrol denganmu,” balasnya
          “baiklah, dimana tempatnya ?” tanyaku
          “di taman, di tempat biasa,” pinta Stella dan aku pun menyetujuinya.
Aku pergi menemui Stella di tempat biasa, lebih tepatnya tempat pertama kali kami bertemu.
          “hai,” sapaku pada Stella yang sudah sampai duluan
          “eh,, kamu sudah datang, duduklah. Aku mau bicara,” suruh Stella
          “baiklah,” balasku sembari duduk disamping Stella
          “belakangan ini kita tidak terlalu banyak bertemu, bahkan mengobrol seperti ini pun sudah sangat jarang kita lakukan,” ucapnya
          “oh, aku minta maaf,” balasku
          “kenapa kamu menghindar dariku ?” tanya Stella tiba-tiba
          “hah,, aku tidak menghindar,” jawabku
          “lalu kenapa kamu seperti tidak mau bertemu denganku ?” tanya dia lagi
          “itu,, aku..”
          “apakah aku melakukan kesalahan, sehingga kamu membenciku ?” tanya Stella memotong perkataanku
          “eh,, itu tidak benar, aku..”
          “kalau semua itu salah, lalu kenapa saat aku pergi ke rumahmu, kamu selalu tidak ada, padahal aku tahu kalau sebenarnya kamu itu berada di dalam rumah,” bentaknya
          “sudahlah Stella, aku tidak mau berdebat denganmu,” jawabku
          “kalau kamu tidak mau, maka jawab pertanyaanku tadi,”
          “aku,, aku tidak bisa mengatakannya,” jawabku
          “baiklah, kalau memang begitu, aku tidak akan menghubungimu lagi,” ucapnya lalu pergi meninggalkanku.
Tidak ada yang bisa kulakukan lagi, kenapa aku membiarkannya pergi, kenapa aku tidak mengatakannya, dan kenapa aku melakukan semua ini.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan tidak menentu.
          “bagaimana, kalian bertengkar ?” ucap Aris tiba-tiba
          “begitulah,” jawabku lemas
          “kenapa loe membiarkan dia pergi ?”
          “aku tidak tahu,” ucapku lesu
          “salahmu juga sih, memangnya kenapa loe menghindar darinya ?” tanya sepupuku persis seperti yang Stella tanyakan,
          “kalian bisa membicarakannya baik-baik, bukan seperti ini,” sambungnya
          “diam, aku tidak ingin membahasnya,” potongku
          “loe ini kenapa sih, kalau ada sesuatu yang mengganjal hatimu, loe bisa mengatakannya padaku,”
          “terimakasih, tapi sekarang aku ingin sendiri dulu,” jawabku
          “loe itu bodoh, Stella khawatir padamu, dia selalu ke sini setiap hari untuk bertemu dengan loe, tapi loe malah tidak ingin menemuinya,”
          “diam,” ucapku agak sebal
          “apakah karena dia punya salah, atau loe menyembunyikan sesuatu darinya, loe itu pengecut, loe membuat seorang wanita khawatir lalu membuatnya menangis, loe itu..”
          “aku bilang diam,” bentakku sambil memegang kerah bajunya
          “loe sudah berani melawan gua, sepupumu sendiri,” ucapnya dingin
Seketika aku tersadar, apa yang aku lakukan, kenapa aku berani kepada Aris, sepupuku yang selama ini membantuku.
          “hah,, maaf,” sesalku sembari melepaskan tanganku,
Aku pergi ke kamar, tanpa berfikir panjang, malam ini aku akan mencari piano dan gubuk tua misterius itu, aku akan melenyapkannya dan berharap pikiran itu tidak mengahantuiku lagi,
*malam*
Aku mengeluarkan sepeda motorku, aku pergi berharap bisa menemukan tempat itu lagi, aku pergi di jam yang sama seperti saat itu, aku mengikuti arah jalan, sama seperti waktu itu, tapi malam ini sama sekali tidak berkabut dan aku sama sekali tidak tersesat, aku hanya berjalan-jalan dari desa ke desa dan aku tidak menemukan tempat itu,  hari semakin larut tapi aku masih belum sampai di tujuanku, Aris menelphoneku dan menyuruhku untuk segera pulang, aku rasa usahaku ini sia-sia dan gagal total, aku putuskan untuk melanjutkannya besok malam.
‘,’      ‘,’      ‘,’      ‘,’      ‘,’
*disisi lain, disaat aku pergi*
Aris pergi menemui Stella.
          “loe merasakannya ?”
          “merasakan apa ?”
          “ada yang aneh dengan Ikki,” ucap sepupuku
          “aku tidak peduli,” jawab Stella cepat
          “walau bagaimana pun, Ikki adalah sepupu gua, gua punya satu permintaan untukmu,” ucap Aris pada Stella
          “apa ?” jawab Stella ragu
          “bantu gua menyelidiki apa yang terjadi pada Ikki, dan apa penyebabnya,” pinta Aris
          “apa untungnya buatku, dia bahkan sudah tidak peduli lagi denganku,” jawab Stella
          “gua tidak tahu, tapi apakah loe tega melihat Ikki terus-terusan begitu ?” tawar Aris
          “ak.. aku sudah bilang kalau aku tidak peduli,” jawab Stella sedikit agak ragu
          “baiklah, tapi asalkan loe tahu, sebenarnya Ikki itu menyukaimu,” ucap Aris blak-blakan
          “hah..”
          “gua yakin kalau loe juga mempunyai perasaan yang sama sepertinya,”
          “itu.. kamu jangan menipuku,” ucap  Stella mulai terpancing oleh ucapan sepupuku
          “gua tidak berbohong, gua yakin kalau sebenarnya loe itu masih sangat peduli dengan Ikki,” ucap Aris
Stella terdiam sejenak,
          “apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Ikki ?” ucap Stella pelan bercampur ragu
          “baiklah, sudah diputuskan.” Ucap Aris sedikit tersenyum
          “apa maksudmu ?”
          “kita akan mencaritahu apa yang menjadi pemicunya,” jawab Aris
          “aku tidak mengerti apa maksudmu,” ucap Stella
          “loe tidak harus mengerti, tapi loe harus memahami situasinya,” sambung Aris
          “apa aku bisa melakukan itu, apakah aku bisa membantu ?”
          “tentu saja, loe itu adalah kunci yang dimiliki oleh Ikki. Stella, rubahlah Ikki kembali seperti sebelumnya !” ucap Aris percaya diri

To Be Continued...




0 comments: