Setelah kami pergi meninggalkan Stella, aku merasa
ada yang aneh, perasaanku tidak enak, aku memberitahukan pada Aris, tapi dia
menjawab kalau itu hanya perasaanku saja, aku mencoba percaya dan aku
memejamkan mata sebentar untuk menghilangkan kekhawatiranku, tapi tak lama
setelah aku memejamkan mata, tiba-tiba Aris kehilangan kendali motornya.
Death tone
Part
04 : jalan yang salah !
Aris
kehilangan keseimbangan motornya, kami berdua hampir terjatuh tapi itu tidak
terjadi karena dia berhasil menyeimbangkan motornya lagi, kami berdua pulang
tepat pada waktunya. Yup,, waktu berbuka puasa.
Tak
banyak yang akan ku ceritakan di part 04 ini, tapi aku akan membahas tentang
perasaan aneh yang terus mengelilingi otakku, aku takut terjadi sesuatu padaku dan
keluargaku, dan aku juga takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Stella.
Malam
hari sepulang terawih, aku mengajak sepupuku untuk pergi menemui Stella di
kos’an nya, dan tepat seperti dugaanku kalau sepupuku juga merasakan perasaan
yang ganjil sama sepertiku, kami berdua berangkat mengendarai sepeda motor dan tak disangka kalau malam ini sangat
berkabut, yang lebih mengejutkan lagi adalah kalau sekarang kami tersesat.
“sepertinya
kita tersesat,” ucapku
“iya,
padahal gua sudah sangat sering pergi melewati jalan ini tapi kenapa bisa
tersesat seperti ini !?” balas Aris, sepupuku
“aku
rasa ada yang tidak beres, aku tidak pernah melihat jalan ini di sekitar sini,”
ucapku
“mana
mungkin, mungkin karena berkabut makanya kita merasa asing dengan tempat ini,”
balasnya santai
“tidak,
aku sangat hafal semua jalan di daerah ini tapi jalan ini terasa asing buatku,”
ucapku sedikit gemetar
“mungkin
kita kelabasan,” katanya sedikit menanangkanku
Kami berdua terus maju berharap kabut ini akan
hilang dan kami bisa kembali, kami seperti berputar-putar di tempat yang sama
karena beberapa kali aku melihat sekitar, dn terasa seperti sedang ‘deja vu’.
“aneh,
sepertinya kita sudah pernah melewati jalan ini,” ucapku pelan
“bukan
hanya itu, yang lebih aneh lagi, tidak ada satu kendaraan pun yang melewati
jalan ini selain kita,” balas sepupuku membuat diriku sedikit lebih takut.
Kami berhenti di pinggir jalan, bukan berhenti sih,,
tapi lebih tepatnya adalah bensin motor kami habis dan kami terpaksa harus
berhenti dan mendorong motor ini.
Aku melihat ada sebuah gubuk di depan, aku dan Aris
sepakat untuk beristirahat dulu disana.
Kami beristirahat, perasaanku semakin tidak jelas,
ada rasa khawatir, takut, dan perasaan aneh lainnya.
Aku melihat sebuah piano tua di pinggir gubuk ini,
aku mencoba melihatnya lebih dekat namun langkahku terhenti karena takut,
loh... aku mengajak Aris untuk mengantarku melihat benda yang mirip piano itu,
dan ternyata benar saja kalau itu adalah sebuah piano tua.
Aku mencoba untuk menyentuhnya dan memainkannya
walaupun aku sendiri tidak bisa bermain
piano, ternyata piano ini masih bisa digunakan. Aris berteriak mencari tahu
siapa pemilik piano itu namun tak ada yang menjawab, lalu dia berteriak minta
tolong namun lagi-lagi tak ada yang menjawabnya,
Setelah
dirasa kalau istirahatnya sudah cukup, aku dan Aris sepupuku pergi meninggalkan
tempat dan piano itu, beberapa meter kami berjalan mendorong motor ini akhirnya
kami menemukan pedagang bensin eceran dan tanpa kami sadari kalau kabutnya
sudah tidak ada.
“oh
iya, kami mau bertanya, ini dimana ya ?” tanya sepupuku pada tukang bensin
eceran itu
“ini
di desa Simpul,” jawabnya
“oh
iya, ada seseorang yang meninggalkan piano di sana, bapak tau siapa yang
meninggalkannya ?” tanyaku
“oh
tidak, memangnya dimana ?” tanya pedagang bensin balik
“disana
, di dekat gubuk itu,” jawabku tanpa melihat tempatnya
“kalian
ini, walaupun perumahan di sekitar sini jelek, tapi setidaknya kalian
menghargai rumah-rumah yang ada disini karena semua rumah disini masih ada penghuninya,” jawabnya sambil agak
membentak.
Aku melihat ke belakang, tapi gubuk itu tidak ada
dan hanya ada perumahan biasa, tidak ada gubuk atau piano.
“ini
aneh, padahal aku yakin kalau disana itu adalah hutan dan ada gubuk tua juga
disana,” ucapku pada tukang bensin eceran itu
“kalau
kalian tidak percaya, kalian kembali lagi kesana, tidak ada hutan disana !”
balasnya membentak
Aku dan sepupuku mencoba kembali ketempat kami
meninggalkan piano itu tapi tak ada apa-apa disana selain rumah-rumah yangberjajar
di sepanjang jalan.
“bukannya
ini aneh,” ucapku pada Aris
“bukan
aneh lagi, ini memang aneh,” jawabnya sambil mengendarai motor
“aku
yakin kalau tadi aku menemukan piano di pinggir gubuk tua,” ucapku lagi
“bukan
hanya itu, jarak dari desa kita ke desa Simpul ini sekitar 10 km, sedangkan
menurut perkiraanku kita berjalan kurang dari satu kilo meter, lagian bensin
motor ini hampir habis dan tidak mungkin sampai di desa ini,” jelasnya
“kamu
benar, kita mendorong motor ini tidak terlalu lama dan mana mungkin kita sampai
di desa ini,” sambungku penasaran.
Ini terasa ganjil, aku dan sepupuku memutuskan untuk
langsung pulang saja.
**-._.-**
Aris
membangukanku untuk makan sahur, aku tidak terlalu bersemangat karena masih
sangat mengantuk, terlebih lagi dengan kejadian semalam yang aneh dan sangat
melelahkan.
Sahur kami seperti biasanya, ayah dan ibuku juga
sepertinya tidak bersemangat makan sahur kali ini,
*skip**siang*
“Aris,
aku minta maaf atas kejadian semalam,” ucapku pada sepupuku
“ya,
tidak apa-apa,” jawabnya
“mungkin
kalau aku tidak mengajakmu untuk pergi ke tempat Stella, kita tidak akan
mengalami hal yang aneh itu,” sambungku
Kami mengobrol seperti biasa, dan kami sepakat kalau
kami akan melupakan kejadian semalam dan tidak memberitahukannya kepada
siapapun.
Tiba-tiba
ponselku berdering dan ternyata itu adalah chat dari Stella, dia meminta nomor
telponku, aku memberikannya karena aku pikir itu tidak apa-apa.
Aku khawatir kalau sepupuku sedikit cemburu padaku,
jadi aku memberitahu dia kalau Stella meminta nomorku dan aku memberikannya.
Stella
memberitahukanku kalau sekarang dia akan pergi menemui kami, dia akan datang
kesini, ke rumahku. Apa yang harus aku lakukan !??
Setelah menunggu beberapa saat, khirny Stella
datang.
“halo,, permisi..” ucap Stella
Aku terkejut karena dia sudah ada di depanku tanpa
kusadari.
“kamu
sedang melamunkan apa hayo !?” rayu Stella
“ee...
tidak kok,” jawabku canggung
“jangan
melamunkan hal yang jorok, nanti puasamu batal loh,” sambungnya
“ti..tidak
kok,” balasku
“kalau
begitu kamu sedang memikirkan apa ?” tanya Stella
“aku..
aku sedang memikirkan... makanan buat nanti buka puasa,” jawabku mengelak,
sebenarnya aku sedang memikirkan apa yang terjadi semalam, kenapa itu terjadi,
dan bagaimana mungkin itu terjadi, aku ingin tahu apa pemicunya sehingga itu
terjadi, jika kalian yang membaca tidak mengerti apa yang terjadi, maka aku
juga tidak mengerti apa yang terjadi (loh...).
“hmm..
oh iya, aku tidak melihat sepupumu, dimana dia ?” tanya Stella sambil melihat-lihat
sekitar
“maksudmu
Aris ?”
“iya,
dia dimana ?”
“tadi
dia ada disini, tapi sekarang aku tidak tahu kemana dia,” balasku seadanya
“begitu
ya, aku merasakan sesuatu yang aneh, jadi aku datang kesini” ucap Stella
“benarkah
? kemarin aku juga merasa tidak enak, seperti ada yang mengganjal,” sambungku
“kalian
baik-baik saja kan ?” tanya Stella
“iya,
kami baik-baik saja,” balasku
Aku terpaksa tidak mengatakannya, tentang kejadian
aneh yang aku dan sepupuku alami semalam. Sepertinya Stella juga merasakan
sesuatu yang aneh, sama seperti aku dan sepupuku.
NEXT.. (part 05 : Ada Apa Denganku ?)
Perlu diketahui kalau ini adalah cerbung dan tidak ada kaitannya drngan anime atau film, mungkin hanya judulnya saja yg mirip dengan judul anime jadi jangan salah ya ! :)
Perlu diketahui kalau ini adalah cerbung dan tidak ada kaitannya drngan anime atau film, mungkin hanya judulnya saja yg mirip dengan judul anime jadi jangan salah ya ! :)






0 comments:
Post a Comment