About

Thursday, June 23, 2016

DEATH TONE part 03 (terimakasih)



Melihat ada keributan disini, beberapa warga lainnya juga ikut menyusul dan aku tidak tahu harus bagaimana.
          “ada apa ribut-ribut,” ucap salah satu warga
Aku tidak tau harus menjawabnya atau tidak, badanku semakin gemetar.

          “kami hanya mau membeli gitar milik Stella,” jawab sepupuku tenang
          “eh, iya.” Sambung Stella
          “tapi kenapa membeli gitar disini, kan banyak yang jual gitar, lagipula kenapa juga harus membeli guitar bekas, ?” tanya salah satu warga.
Death tone
Part 03 : Terima kasih

“aku lagi tidak punya uang, kebetulan sepupu bodohku ini mempunyai kenalan yang mau menjual gitarnya,” jawab sepupuku lagi, tidak ada keraguan dalam kata-katanya, inilah kenapa aku selalu ingin meminta jawaban kepada sepupuku, Aris.
“yasudah kalau begitu, maaf atas ketidaknyamanannya.” Ucap seorang warga dan mereka pun pergi
Aku sangat berterimakasih kepada sepupuku, dia telah menyelamatkanku tapi aku tahu kalau sebenarnya dia sedang marah padaku.
Aris membayar tukang ojek yang mengantarnya tadi, dan dia berbicaraa padaku.
          “bagaimana ?” tanya dia
          “bagaimana apanya ?” tanyaku balik karena tidak mengerti maksudnya
          “enak ? berduaan dengan wanita dalam satu ruangan ?” tanya dia lagi
          “itu..”
          “itu salahku, aku yang memaksanya kesini,” ucap Stella memotong perkataanku
          “ya sudahlah, gua tidak mau mendengar kalian saling membela, loe sekarang harus pulang !” ucap Aris kepadaku
          “baiklah, aku minta maaf.” Jawabku
Dia tidak berkata lagi, aku pulang meninggalkan Stella.
Sepupuku memang tidak pandai berkata sopan, tapi dia selalu bisa diandalkan, disaat kami sampai depan rumah, ibuku meminta maaf kepada sepupuku karena sudah berlebihan, sepupuku terlihat biasa saja, dia memang orang yang dingin.
Sepupuku masuk kemar duluan sedangkan aku dimarahi oleh ibuku karena tidak memberitahu terlebih dulu kalau aku tidak akan berbuka puasa di rumah.
          Aku tidur dengan sepupuku, dia sepertinya sudah tidur tapi aku tetap harus berterimakasih dan meminta maaf kepadanya.
          “Aris, kau sudah tidur ?” tanyaku pelan
Tak ada respon darinya
          “aku minta maaf karena sudah merepotkanmu, aku juga berterimakasih karena kamu sudah menolongku tadi,” tak ada respon darinya
          “kalau ada yang bisa kubantu, kamu bisa menyuruhku..”
          “tidak ada,” jawabnya pelan memotong perkataanku
          “kamu pasti marah padaku, aku ..”
          “gua akan sangat marah kalau loe gak berhenti ngomong,” ucapnya lagi memotong  perkataanku
          “baiklah, tapi kalau ada...”
          “gua menyukai Stella.” Ucapnya serentak, yang dia katakan membuatku terkejut, aku terdiam dan membayangkan bagaimana kalau aku berada di posisi sepupuku, itu pasti akan sangat menyakitkan.
          “sahur wey,, wey bangun.. kalo loe gak mau bangun juga gua bakalan nyiram loe pakai air seember..” ucap seseorang membangunkanku sahur, aku yang masih sangat mengantuk tidaak menghiraukannya.
Dia mencipratiku dengan air, serentak aku terkejut dan bangun.
          “loe ini bangunnya susah amat sih !” bentak sepupuku
          “maaf, aku masih ngantuk,” jawabku lemas
          “yaa.. terserah lu,” jawabnya meninggalkanku
Apakah dia masih marah padaku ? pasti, mungkin dia tidak akan mempercayaiku lagi dan kalau itu terjadi, siapa yang harus aku tanya kalau aku berada dalam kesulitan !?
          Hari-hari kembali normal, aku hanya bermain dengan ponselku  karena aku tak berani menemui sepupuku, sepertinya aku akan kembali seperti dulu lagi, yap.. dulu sebelum sepupuku datang.
Tak terasa sudah  sore lagi, aku duduk di depan rumah seperti biasa, melihat orang-orang jalan lalu lalang di depan rumahku.
          “wey.. ngabuburit yuk !” ajak sepupuku tiba-tiba dari belakang
          “kamu  tidak marah padaku ?” tanyaku penasaran
          “tidak,” jawabnya santai
          “tapi kemarin kamu harus berbuka di luar karena aku,” ucapku
          “dengar ya Ikki, gua buka bersama di Mesjid, dan itu semua GRATIS,” jelasnya
          “bagaimana dengan kejadian semalam ?” tanyaku lagi
          “kejadiaan saat gue menemukanmu di kamar Stella ?”
          “iya, kamu pasti marah karena kamu juga menyukainya,” ucapku
          “kamu pasti marah karena kamu juga menyukainya,” ucapnya mengulang perkataanku
          “kamu suka padanya ?” tanya sepupuku padaku
          “ee.. itu..”
          “tenang saja, kita bersaing secara sehat !” tawarnya sembari memotong perkataanku
          “kamu pasti menang, aku tidak mungkin bisa menang darimu,” ucapku lemas
          “tidak juga, sepertinya sekarang Stella sedang menyukaimu,” jawabnya santai
          “jangan menghiburku !” pintaku
          “bagaimana kalau sekarang loe pergi ke tempatnya, dia pasti merasa sangat bersalah,” ucapnya
          “kamu saja yang pergi, aku akan menunggu disini,” jawabku lemas
          “aku tipe orang yang tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, kamu tidak mau kan kalau aku melakukannya ?”  tanya Aris dengan santai, sepupuku ini memang sangat tahu kelemahanku.
          “baiklah, aku ikut,” jawabku
Aku tak punya pilihan lain,tapi walaupun begitu aku juga ingin bertemu dengannya.
          “oh iya, kamu gak marah ?” teriakku pada sepupuku karena dia suasananya sedikit agak ramai, terlebih lagi dia sedang berkonsentrasi menyetir.
          “marah kenapa ?” tanya dia
          “karena kejadian semalam,” jawabku
          “kan gua sudah bilang kalau gua gak marah sama sekali,” balasnya
          “syukurlah kalau kamu tidak marah,” ucapku
          “aku percaya pada kalian kalau kemarin itu hanya salah paham, dan kalian tidak melakukan apa-apa kan ?” tanya dia
          “tidak, aku tidak melakukan apa-apa,” jawabku
Tak terasa kami sampai di tempat biasa, tempat pertama kali aku bertemu dengan Stella, aku tidak melihat Stella  di sekitar sini begitu pula dengan sepupuku.
Aku dan sepupuku tetap tidak menemukannya.
          “kau tidak cemburu saat melihatku kemarin ?” tanyaku membuka percakapan dengan sepupuku
          “entahlah, lagipula aku tidak punya hak untuk cemburu,” jawabnya santai
          “tapi loe jangan coba-coba melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya,” ucapnya sambil melihatku sinis, sepertinya dia mengancamku.
          “i..iya” jawabku pelan
          “aku tidak peduli kalian mau pacaran, pegangan tangan, pelukan, tapi aku tidak akan pernah menerima kalau kalian melakukan hubungan terlarang itu,” ucapnya lagi, dia memang mengancamku.
Kami sudah menuggu terlalu lama, akhirnya kami sepakat untuk pergi ke kamar kos nya.
Kami sampai di depan pintu kamar kos nya, aku mengetuk pintu, “tok, tok, tok,” seseorang membukakan pintu dan itu adalah Stella, dia menyuruh kami masuk ke dalam tapi sepupuku menolak dan menyuruhnya untuk mengobrol di luar saja. Mengingat kejadian kemarin, sepertinya sepupuku itu benar.
          “maaf, aku baru bangun,” ucap Stella sambil sedikit menguap
          “maaf kami membangunkanmu,” ucapku
          “oh, tidak apa-apa,” jawabnya sembari tersenyum
Kami mengobrol kecuali sepupuku, di rumah dia sangat ingin menemui Stella tapi sekarang saat Stella ada di depan matanya, dia malah diam saja.
Apakah dia gugup ? aku tidak menyangka kalau dia juga bisa gugup,
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa kalau sore sudah datang dan aku harus pulang, aku dan sepupuku berpamitan dengan Stella.
          Entah kenapa setelah meninggalkan Stella, perasaanku tidak enak. Apa yang akan terjadi ?
Sepertinya sudah saatnya cerita ini bersambung dan dilanjutkan lagi nanti, sampai jumpa.

* *
Note :
Mungkin ada yang mengira kalau saya mengambil nama tokoh disini oleh nama karakter utama dalam anime, lebih tepatnya anime ‘rakudai kishi no cavalry’.
 Tapi maksud saya bukan begitu, Ikki adalah nama sepupu asli saya dan nama Stella sayaambil dari nama ex member JKT48.
Mohon maaf bila ada salah paham.

0 comments: