Melihat ada keributan disini, beberapa warga lainnya
juga ikut menyusul dan aku tidak tahu harus bagaimana.
“ada
apa ribut-ribut,” ucap salah satu warga
Aku tidak tau harus menjawabnya atau tidak, badanku
semakin gemetar.
“kami
hanya mau membeli gitar milik Stella,” jawab sepupuku tenang
“eh,
iya.” Sambung Stella
“tapi
kenapa membeli gitar disini, kan banyak yang jual gitar, lagipula kenapa juga
harus membeli guitar bekas, ?” tanya salah satu warga.
Death tone
Part
03 : Terima kasih
“aku lagi tidak punya
uang, kebetulan sepupu bodohku ini mempunyai kenalan yang mau menjual
gitarnya,” jawab sepupuku lagi, tidak ada keraguan dalam kata-katanya, inilah
kenapa aku selalu ingin meminta jawaban kepada sepupuku, Aris.
“yasudah kalau begitu,
maaf atas ketidaknyamanannya.” Ucap seorang warga dan mereka pun pergi
Aku sangat berterimakasih kepada sepupuku, dia telah
menyelamatkanku tapi aku tahu kalau sebenarnya dia sedang marah padaku.
Aris membayar tukang ojek yang mengantarnya tadi,
dan dia berbicaraa padaku.
“bagaimana
?” tanya dia
“bagaimana
apanya ?” tanyaku balik karena tidak mengerti maksudnya
“enak
? berduaan dengan wanita dalam satu ruangan ?” tanya dia lagi
“itu..”
“itu
salahku, aku yang memaksanya kesini,” ucap Stella memotong perkataanku
“ya
sudahlah, gua tidak mau mendengar kalian saling membela, loe sekarang harus
pulang !” ucap Aris kepadaku
“baiklah,
aku minta maaf.” Jawabku
Dia tidak berkata lagi, aku pulang meninggalkan
Stella.
Sepupuku memang tidak pandai berkata sopan, tapi dia
selalu bisa diandalkan, disaat kami sampai depan rumah, ibuku meminta maaf
kepada sepupuku karena sudah berlebihan, sepupuku terlihat biasa saja, dia
memang orang yang dingin.
Sepupuku masuk kemar duluan sedangkan aku dimarahi
oleh ibuku karena tidak memberitahu terlebih dulu kalau aku tidak akan berbuka
puasa di rumah.
Aku
tidur dengan sepupuku, dia sepertinya sudah tidur tapi aku tetap harus
berterimakasih dan meminta maaf kepadanya.
“Aris,
kau sudah tidur ?” tanyaku pelan
Tak ada respon darinya
“aku
minta maaf karena sudah merepotkanmu, aku juga berterimakasih karena kamu sudah
menolongku tadi,” tak ada respon darinya
“kalau
ada yang bisa kubantu, kamu bisa menyuruhku..”
“tidak
ada,” jawabnya pelan memotong perkataanku
“kamu
pasti marah padaku, aku ..”
“gua
akan sangat marah kalau loe gak berhenti ngomong,” ucapnya lagi memotong perkataanku
“baiklah,
tapi kalau ada...”
“gua
menyukai Stella.” Ucapnya serentak, yang dia katakan membuatku terkejut, aku
terdiam dan membayangkan bagaimana kalau aku berada di posisi sepupuku, itu
pasti akan sangat menyakitkan.
“sahur
wey,, wey bangun.. kalo loe gak mau bangun juga gua bakalan nyiram loe pakai
air seember..” ucap seseorang membangunkanku sahur, aku yang masih sangat
mengantuk tidaak menghiraukannya.
Dia mencipratiku dengan air, serentak aku terkejut
dan bangun.
“loe
ini bangunnya susah amat sih !” bentak sepupuku
“maaf,
aku masih ngantuk,” jawabku lemas
“yaa..
terserah lu,” jawabnya meninggalkanku
Apakah dia masih marah padaku ? pasti, mungkin dia
tidak akan mempercayaiku lagi dan kalau itu terjadi, siapa yang harus aku tanya
kalau aku berada dalam kesulitan !?
Hari-hari
kembali normal, aku hanya bermain dengan ponselku karena aku tak berani menemui sepupuku,
sepertinya aku akan kembali seperti dulu lagi, yap.. dulu sebelum sepupuku
datang.
Tak terasa sudah
sore lagi, aku duduk di depan rumah seperti biasa, melihat orang-orang
jalan lalu lalang di depan rumahku.
“wey..
ngabuburit yuk !” ajak sepupuku tiba-tiba dari belakang
“kamu tidak marah padaku ?” tanyaku penasaran
“tidak,”
jawabnya santai
“tapi
kemarin kamu harus berbuka di luar karena aku,” ucapku
“dengar
ya Ikki, gua buka bersama di Mesjid, dan itu semua GRATIS,” jelasnya
“bagaimana
dengan kejadian semalam ?” tanyaku lagi
“kejadiaan
saat gue menemukanmu di kamar Stella ?”
“iya,
kamu pasti marah karena kamu juga menyukainya,” ucapku
“kamu
pasti marah karena kamu juga menyukainya,” ucapnya mengulang perkataanku
“kamu
suka padanya ?” tanya sepupuku padaku
“ee..
itu..”
“tenang
saja, kita bersaing secara sehat !” tawarnya sembari memotong perkataanku
“kamu
pasti menang, aku tidak mungkin bisa menang darimu,” ucapku lemas
“tidak
juga, sepertinya sekarang Stella sedang menyukaimu,” jawabnya santai
“jangan
menghiburku !” pintaku
“bagaimana
kalau sekarang loe pergi ke tempatnya, dia pasti merasa sangat bersalah,”
ucapnya
“kamu
saja yang pergi, aku akan menunggu disini,” jawabku lemas
“aku
tipe orang yang tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, kamu tidak mau kan
kalau aku melakukannya ?” tanya Aris
dengan santai, sepupuku ini memang sangat tahu kelemahanku.
“baiklah,
aku ikut,” jawabku
Aku tak punya pilihan lain,tapi walaupun begitu aku
juga ingin bertemu dengannya.
“oh
iya, kamu gak marah ?” teriakku pada sepupuku karena dia suasananya sedikit
agak ramai, terlebih lagi dia sedang berkonsentrasi menyetir.
“marah
kenapa ?” tanya dia
“karena
kejadian semalam,” jawabku
“kan
gua sudah bilang kalau gua gak marah sama sekali,” balasnya
“syukurlah
kalau kamu tidak marah,” ucapku
“aku
percaya pada kalian kalau kemarin itu hanya salah paham, dan kalian tidak
melakukan apa-apa kan ?” tanya dia
“tidak,
aku tidak melakukan apa-apa,” jawabku
Tak terasa kami sampai di tempat biasa, tempat
pertama kali aku bertemu dengan Stella, aku tidak melihat Stella di sekitar sini begitu pula dengan sepupuku.
Aku dan sepupuku tetap tidak menemukannya.
“kau
tidak cemburu saat melihatku kemarin ?” tanyaku membuka percakapan dengan
sepupuku
“entahlah,
lagipula aku tidak punya hak untuk cemburu,” jawabnya santai
“tapi
loe jangan coba-coba melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya,” ucapnya sambil
melihatku sinis, sepertinya dia mengancamku.
“i..iya”
jawabku pelan
“aku
tidak peduli kalian mau pacaran, pegangan tangan, pelukan, tapi aku tidak akan
pernah menerima kalau kalian melakukan hubungan terlarang itu,” ucapnya lagi,
dia memang mengancamku.
Kami sudah menuggu terlalu lama, akhirnya kami sepakat
untuk pergi ke kamar kos nya.
Kami sampai di depan pintu kamar kos nya, aku
mengetuk pintu, “tok, tok, tok,” seseorang membukakan pintu dan itu adalah
Stella, dia menyuruh kami masuk ke dalam tapi sepupuku menolak dan menyuruhnya
untuk mengobrol di luar saja. Mengingat kejadian kemarin, sepertinya sepupuku
itu benar.
“maaf,
aku baru bangun,” ucap Stella sambil sedikit menguap
“maaf
kami membangunkanmu,” ucapku
“oh,
tidak apa-apa,” jawabnya sembari tersenyum
Kami mengobrol kecuali sepupuku, di rumah dia sangat
ingin menemui Stella tapi sekarang saat Stella ada di depan matanya, dia malah
diam saja.
Apakah dia gugup ? aku tidak menyangka kalau dia
juga bisa gugup,
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa kalau sore
sudah datang dan aku harus pulang, aku dan sepupuku berpamitan dengan Stella.
Entah
kenapa setelah meninggalkan Stella, perasaanku tidak enak. Apa yang akan terjadi
?
Sepertinya sudah saatnya cerita ini bersambung dan
dilanjutkan lagi nanti, sampai jumpa.
* *
Note :
Mungkin ada yang mengira kalau saya mengambil nama
tokoh disini oleh nama karakter utama dalam anime, lebih tepatnya anime ‘rakudai
kishi no cavalry’.
Tapi maksud
saya bukan begitu, Ikki adalah nama sepupu asli saya dan nama Stella sayaambil
dari nama ex member JKT48.
Mohon maaf bila ada salah paham.






0 comments:
Post a Comment