About

Sunday, June 19, 2016

DEATH TONE part 02 (aku tidak melakukannya)



Aku pulang dan menjemput sepupuku di tempat yang sudah ia tentukan, besok wanita itu menyuruhku menemuinya lagi, apa yang harus aku lakukan !?
Death tone
Part 02 : Aku tidak melakukannya !
          Aku sampai di rumah bersama dengan sepupuku, tak terasa kalau beberapa menit lagi waktunya berbuka, sepertinya kata sepupuku itu benar, “kalau kita tidak menunggu dan menikmatinya, maka waktu akan berlalu dengan cepat, dan jika kita menunggu maka waktu juga akan menunggu kita.” Itu yang dia ucapkan.

Sepupuku itu memang pintar, aku jadi ingat sebuah pepatah “jika kau menatap jurang terlalu lama, maka jurang itu juga akan menatapmu.”
          Berbuka, shalat maghrib, shalat isya, terawih, lalu tedarus, itu yang biasa aku lakukan setelah berbuka. Waktu berlalu dengan cepat, sudah waktunya sahur lagi dan entah mengapa hari ini aku merasa lebih semangat dari hari sebelumnya.
Aku tak sabar menunggu sore hari, kali ini bukan menunggu berbuka melainkan unutk bertemu dengan gadis itu.
“kau bersemangat sekali, mau bertemu dengannya lagi ya ?” tanya sepupuku
“iya, kamu antar aku lagi ya ?” tanyaku balik
“ogah, nanti gua hanya akan menjadi nyamuk bagi kalian berdua,” jawabnya
“ayolah,, antar aku. Dia juga ingin bertemu denganmu,” balasku
“itu hanya alasannya saja untuk bertemu dengamu, kau ini masih belum mengerti juga yah Ikki,”
“benarkah ? walaupun begitu, kau harus tetap ikut,” ucapku meminta
“baiklah,” ucapnya dingin
Akhirnya dia menyetujuinya, sore hari aku dan sepupuku Aris, pergi ke tempat yang kemarin, kurasa dia sudah menunggu.
Benar saja, dia sudah datang lebih dulu dibandingkan dengan kami.
“hai,,” ucapku padanya
“hai juga, Ikki.” Jawabnya
“perkenalkan ini sepupuku, namanya Aris.” Ucapku sembari memperkenalkan mereka
“salam kenal, aku Stella,” ucap wanita itu,
“aku Aris, senang bertemu denganmu,” jawab sepupuku
“aku pergi jalan-jalan dulu yah !” sambungnya lagi, dia pergi meninggalkan aku dengan Stella
“jadi bagaimana ?” tanya Stella
“bagaimana apanya ?” tanyaku balik
“apa ya.. btw berapa hari sepupumu akan tinggal denganmu ?”
“mugkin sekitar satu atau dua tahun,” jawabku
“lama amat, kenapa ?” tanya dia lagi
“orang tuanya bercerai dan dia ikut dengan ayahnya, berhubung ayahnya sibuk kerja, jadi dia akan tinggal bersamaku,” jelasku
“memangnya ayahnya bekerja apa ?”
“menteri luar negri,” jawabku singkat
“dia punya sodara ?”
“tidak, dia anak tunggal, mungkin selama dia disini, dia juga akan sekolah disini bersamaku,” ucapku menjawab pertanyaannya
“oh iya, kamu sekolah dimana ?” tanya Stella padaku
“di SMA nusa 1, kamu ?”
“sekolah kita sama, tapi kenapa aku tidak mengetahuinya !?” jawabnya agak bingung
“mungkin karena aku jarang pergi keluar kelas,” jawabku ragu
“begitu ya, kelas berapa ?”
“aku kelas 2 SMA, sebentar lagi kelas tiga.” balasku
“loh,, kita sama lagi, kamu sering bolos ya ?” rayu dia
“enggak kok, aku tidak pernah bolos,” jawabku membela diri

Kami mengobrol begitu lama, hingga tak terasa kalau muadzin sudah mengumandangkan suaranya untuk mengajak beribadah dan pertanda berbuka puasa.
Karena aku sudah terlanjur, aku dan Stella akhirnya berbuka disini, kami membeli air untuk membatalkan puasa kami dan membeli makanan yang manis juga, dia mengajakku untuk sholat maghrib di daerah sini.
          “tapi bagaimana dengan sepupuku ?” tanyaku
          “dia juga pasti tau harus berbuat apa,” jelasnya
          “baiklah,” jawabku
Sementara itu, begitu suara Adzan terdengar, Aris pergi mencariku tapi dia tidak menemukanku. Aris melihat motornya tidak ada dan dia mencoba menghubungiku, tapi ponsel nya mati karena dia lupa megisi baterainya,
          “sial,, sekarang mungkin dia sudah pulang, sebaiknya aku berbuka disini saja dulu,” ucapnya sedikit agak kesal
Dia berbuka disini dan dia pulang naik angkot, “untung masih ada angkot di jam segini, kalau tidak,, aku pasti tidak bisa pulang,” ucapnya mengoceh sendiri di dalam angkot.
          Aris pulang sendiri, dan saat dia tiba dirumah, dia terkejut karena aku masih belum pulang.
          “jadi kemana dia ?” tanya ibuku
          “aku tidak tahu, aku fikir dia sudah pulang.” Jawab Aris kaget
          “kamu harus bertanggung jawab dan mencarinya !” ucap ibuku sembari sedikit membentak
          “coba hubungi ponselnya, !” pinta sepupuku itu
          “baiklah,,” ibuku menguhubungiku
Aku tidak mendengar ada yang menghubungiku karena ponselku dalam mode diam.
          “bagaimana ?” tanya Aris kepada ibuku
          “dia tidak mengangkatnya,” jawab ibuku
          “pokonya dia harus kembali, kamu harus mencarinya kemana pun, dan jangan kembali sebeum kamu menemukannya,”  bentak ibuku
Ibuku sangat mencemaskanku, sementara itu Aris masih kebingungan di depan pintu.
          “dia ini menyusahkanku saja,” keluh sepupuku itu, dia tidak langsung mencariku, dia malahan pergi ke mesjid untuk mendapatkan takjil, karena dia tahu kalau aku tidak apa-apa.
Mungkin kalau aku berada di posisinya, aku akan langsung mencari walaupun tak tahu harus mencainya kemana.
Dia tidak mencariku, dia shalat tarawih terlebih dulu karena dia tahu kalau ibadah ini hanya sebulan dalam setahun.
          Sementara itu, ditempat lain dimana aku sedang menunaikan shalat terawih, aku terus-terusan berifikir, aku sudah terlanjur disini, walaupun ini terasa asing tapi aku tak merasa malu kali ini.
          Setelah semuanya selesai, aku berpamitan kepada Stella untuk pulang karena aku tahu kalau keluargaku pasti akan mencariku, ibuku pasti sangat khawatir.
          “kenapa cepat sekali, kita ngobrol-ngobrol dulu saja yuk,” pinta Stella
          “tapi..”
          “mereka pasti mengerti, kamu hubungi saja keluargamu, bilang kalo kamu lagi main bareng temanmu,” ucapnya memotong perkataanku
          “aku..”
          “berikan ponselmu,” pinta dia memotong perkataanku lagi
Aku memberikan ponselku padanya, dia mengirim pesan pada ibuku dan sepupuku kalau aku akan pulang nanti malam.
Aku mengobrol dengannya, dia terlihat sangat senang dan aku juga bahagia, lama-kelamaan pembicaraan kami semakin akrab, dan sekarang dia membicarakan soal musik.
          “kamu bisa bermain alat musik ?” tanya dia padaku
          “enggak, kalo kamu ?” tanyku balik
          “bisa, aku bisa bermain piano dan guitar akustik,” jawabnya
          “kamu hebat ya,” balasku
          “enggak kok, aku Cuma bisa sedikit-sedikit,” jawabnya
          “tapi kamu bisa, sedangkan aku sama sekali tidak bisa,” ucapku
          “kalo kamu mau, aku bisa mengajarkannya padamu,” tawar Stella padaku
          “benarkah ?” tanyaku girang
          “iya, kebetulan piano dan guitar ada di kamarku,” jawabnya
          “kalau begitu, besok aku kesana ya ?” tanyaku
          “kenapa harus besok, sekarang saja,” balasnya
          “tapi.. apakah tidak apa-apa ?”
          “tidak,”
          “orang tuamu tidak akan melarangku ?” tanyaku
          “tidak akan, aku tinggal di kost an,” jawabnya
          “bagaimana kalau yang punya kosan mengusirku ?” tanyaku lagi
          “ gak bakalan kok, ayo ikut saja,” ucapnya sambil menarik tanganku
Dia tidak membawa motor jadi aku memboncengnya, kos-kosannya tidak terlalu jauh dari tempat ini.
Kamarnya terlihat rapi, berbanding terbalik dengan kamarku.
Aku melihat ada piano di pinggir kasurnya, aku juga melihat sebuah guitar tergantung di dinding dan beberapa fotonya.
Stella mulai mengajariku tapi aku terlalu canggung, aku berbaring di kamarnya karena aku yakin kalau aku tidak akan bisa sepertinya.
Melihatku berbaring, Stella juga ikut berbaring di sebelahku, aku terkejut tapi dia berbicara padaku.
          “aku sangat senang,” ucapnya
          “aku juga,” balasku
          “terimakasih karena sudah menemaniku, besok kamu akan kesini lagi kan ?” tanya Stella padaku
          “iya,” jawabku
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar Stella, dan serentak Stella dan aku terkejut dan bangun.
          “ternyata kau juga bisa melakukan ini !?” ucap seseorang itu yang tidak lain adalah sepupuku, Aris.
          “aku tidak melakukannya,  ini salah paham,” ucapku mencoba menjelaskan semua ini
          “aku tidak menyangka, kalian ini ternyata berani juga,” ucapnya padaku dan Stella
          “aku hanya mengajarkan cara bermain gitar, tidak lebih,” jelas Stella
          “wow,, sepertinya kalian memang sudah melakukannya, badan kalian gemetaran tuh,” ucap sepupuku itu
          “ii..ini..”
Dan tidak disangka kalau ada orang lain yang masuk begitu saja, jangan-jangan dia warga disini, bagaimana ini ??
Apakah aku akan ditangkap, dimasukkan kedalam sel tahanan ?
Atau aku akan dinikahkan dengan Stella ?
Aku tidak tahu harus berbuat apa....
Melihat ada keributan disini, beberapa warga lainnya juga ikut menyusul dan...

*bersambung....*

Part 03 : terimakasih

0 comments: