Aku pulang dan menjemput sepupuku di tempat yang
sudah ia tentukan, besok wanita itu menyuruhku menemuinya lagi, apa yang harus
aku lakukan !?
Death tone
Part
02 : Aku tidak melakukannya !
Aku
sampai di rumah bersama dengan sepupuku, tak terasa kalau beberapa menit lagi
waktunya berbuka, sepertinya kata sepupuku itu benar, “kalau kita tidak
menunggu dan menikmatinya, maka waktu akan berlalu dengan cepat, dan jika kita
menunggu maka waktu juga akan menunggu kita.” Itu yang dia ucapkan.
Sepupuku itu memang pintar, aku jadi ingat sebuah
pepatah “jika kau menatap jurang terlalu lama, maka jurang itu juga akan
menatapmu.”
Berbuka,
shalat maghrib, shalat isya, terawih, lalu tedarus, itu yang biasa aku lakukan
setelah berbuka. Waktu berlalu dengan cepat, sudah waktunya sahur lagi dan
entah mengapa hari ini aku merasa lebih semangat dari hari sebelumnya.
Aku tak sabar menunggu
sore hari, kali ini bukan menunggu berbuka melainkan unutk bertemu dengan gadis
itu.
“kau bersemangat
sekali, mau bertemu dengannya lagi ya ?” tanya sepupuku
“iya, kamu antar aku
lagi ya ?” tanyaku balik
“ogah, nanti gua hanya
akan menjadi nyamuk bagi kalian berdua,” jawabnya
“ayolah,, antar aku.
Dia juga ingin bertemu denganmu,” balasku
“itu hanya alasannya
saja untuk bertemu dengamu, kau ini masih belum mengerti juga yah Ikki,”
“benarkah ? walaupun
begitu, kau harus tetap ikut,” ucapku meminta
“baiklah,” ucapnya
dingin
Akhirnya dia menyetujuinya, sore hari aku dan
sepupuku Aris, pergi ke tempat yang kemarin, kurasa dia sudah menunggu.
Benar saja, dia sudah datang lebih dulu dibandingkan
dengan kami.
“hai,,” ucapku padanya
“hai juga, Ikki.”
Jawabnya
“perkenalkan ini
sepupuku, namanya Aris.” Ucapku sembari memperkenalkan mereka
“salam kenal, aku Stella,”
ucap wanita itu,
“aku Aris, senang bertemu
denganmu,” jawab sepupuku
“aku pergi jalan-jalan
dulu yah !” sambungnya lagi, dia pergi meninggalkan aku dengan Stella
“jadi bagaimana ?”
tanya Stella
“bagaimana apanya ?”
tanyaku balik
“apa ya.. btw berapa
hari sepupumu akan tinggal denganmu ?”
“mugkin sekitar satu
atau dua tahun,” jawabku
“lama amat, kenapa ?”
tanya dia lagi
“orang tuanya bercerai
dan dia ikut dengan ayahnya, berhubung ayahnya sibuk kerja, jadi dia akan
tinggal bersamaku,” jelasku
“memangnya ayahnya
bekerja apa ?”
“menteri luar negri,”
jawabku singkat
“dia punya sodara ?”
“tidak, dia anak
tunggal, mungkin selama dia disini, dia juga akan sekolah disini bersamaku,”
ucapku menjawab pertanyaannya
“oh iya, kamu sekolah
dimana ?” tanya Stella padaku
“di SMA nusa 1, kamu ?”
“sekolah kita sama,
tapi kenapa aku tidak mengetahuinya !?” jawabnya agak bingung
“mungkin karena aku
jarang pergi keluar kelas,” jawabku ragu
“begitu ya, kelas
berapa ?”
“aku kelas 2 SMA,
sebentar lagi kelas tiga.” balasku
“loh,, kita sama lagi,
kamu sering bolos ya ?” rayu dia
“enggak kok, aku tidak
pernah bolos,” jawabku membela diri
Kami mengobrol begitu lama, hingga tak terasa kalau
muadzin sudah mengumandangkan suaranya untuk mengajak beribadah dan pertanda
berbuka puasa.
Karena aku sudah terlanjur, aku dan Stella akhirnya
berbuka disini, kami membeli air untuk membatalkan puasa kami dan membeli
makanan yang manis juga, dia mengajakku untuk sholat maghrib di daerah sini.
“tapi
bagaimana dengan sepupuku ?” tanyaku
“dia
juga pasti tau harus berbuat apa,” jelasnya
“baiklah,”
jawabku
Sementara itu, begitu suara Adzan terdengar, Aris
pergi mencariku tapi dia tidak menemukanku. Aris melihat motornya tidak ada dan
dia mencoba menghubungiku, tapi ponsel nya mati karena dia lupa megisi
baterainya,
“sial,,
sekarang mungkin dia sudah pulang, sebaiknya aku berbuka disini saja dulu,”
ucapnya sedikit agak kesal
Dia berbuka disini dan dia pulang naik angkot,
“untung masih ada angkot di jam segini, kalau tidak,, aku pasti tidak bisa
pulang,” ucapnya mengoceh sendiri di dalam angkot.
Aris
pulang sendiri, dan saat dia tiba dirumah, dia terkejut karena aku masih belum
pulang.
“jadi
kemana dia ?” tanya ibuku
“aku
tidak tahu, aku fikir dia sudah pulang.” Jawab Aris kaget
“kamu
harus bertanggung jawab dan mencarinya !” ucap ibuku sembari sedikit membentak
“coba
hubungi ponselnya, !” pinta sepupuku itu
“baiklah,,”
ibuku menguhubungiku
Aku tidak mendengar ada yang menghubungiku karena
ponselku dalam mode diam.
“bagaimana
?” tanya Aris kepada ibuku
“dia
tidak mengangkatnya,” jawab ibuku
“pokonya
dia harus kembali, kamu harus mencarinya kemana pun, dan jangan kembali sebeum
kamu menemukannya,” bentak ibuku
Ibuku sangat mencemaskanku, sementara itu Aris masih
kebingungan di depan pintu.
“dia
ini menyusahkanku saja,” keluh sepupuku itu, dia tidak langsung mencariku, dia
malahan pergi ke mesjid untuk mendapatkan takjil, karena dia tahu kalau aku
tidak apa-apa.
Mungkin kalau aku berada di posisinya, aku akan
langsung mencari walaupun tak tahu harus mencainya kemana.
Dia tidak mencariku, dia shalat tarawih terlebih
dulu karena dia tahu kalau ibadah ini hanya sebulan dalam setahun.
Sementara
itu, ditempat lain dimana aku sedang menunaikan shalat terawih, aku
terus-terusan berifikir, aku sudah terlanjur disini, walaupun ini terasa asing
tapi aku tak merasa malu kali ini.
Setelah
semuanya selesai, aku berpamitan kepada Stella untuk pulang karena aku tahu
kalau keluargaku pasti akan mencariku, ibuku pasti sangat khawatir.
“kenapa
cepat sekali, kita ngobrol-ngobrol dulu saja yuk,” pinta Stella
“tapi..”
“mereka
pasti mengerti, kamu hubungi saja keluargamu, bilang kalo kamu lagi main bareng
temanmu,” ucapnya memotong perkataanku
“aku..”
“berikan
ponselmu,” pinta dia memotong perkataanku lagi
Aku memberikan ponselku padanya, dia mengirim pesan
pada ibuku dan sepupuku kalau aku akan pulang nanti malam.
Aku mengobrol dengannya, dia terlihat sangat senang
dan aku juga bahagia, lama-kelamaan pembicaraan kami semakin akrab, dan
sekarang dia membicarakan soal musik.
“kamu
bisa bermain alat musik ?” tanya dia padaku
“enggak,
kalo kamu ?” tanyku balik
“bisa,
aku bisa bermain piano dan guitar akustik,” jawabnya
“kamu
hebat ya,” balasku
“enggak
kok, aku Cuma bisa sedikit-sedikit,” jawabnya
“tapi
kamu bisa, sedangkan aku sama sekali tidak bisa,” ucapku
“kalo
kamu mau, aku bisa mengajarkannya padamu,” tawar Stella padaku
“benarkah
?” tanyaku girang
“iya,
kebetulan piano dan guitar ada di kamarku,” jawabnya
“kalau
begitu, besok aku kesana ya ?” tanyaku
“kenapa
harus besok, sekarang saja,” balasnya
“tapi..
apakah tidak apa-apa ?”
“tidak,”
“orang
tuamu tidak akan melarangku ?” tanyaku
“tidak
akan, aku tinggal di kost an,” jawabnya
“bagaimana
kalau yang punya kosan mengusirku ?” tanyaku lagi
“ gak
bakalan kok, ayo ikut saja,” ucapnya sambil menarik tanganku
Dia tidak membawa motor jadi aku memboncengnya,
kos-kosannya tidak terlalu jauh dari tempat ini.
Kamarnya terlihat rapi, berbanding terbalik dengan
kamarku.
Aku melihat ada piano di pinggir kasurnya, aku juga
melihat sebuah guitar tergantung di dinding dan beberapa fotonya.
Stella mulai mengajariku tapi aku terlalu canggung,
aku berbaring di kamarnya karena aku yakin kalau aku tidak akan bisa
sepertinya.
Melihatku berbaring, Stella juga ikut berbaring di
sebelahku, aku terkejut tapi dia berbicara padaku.
“aku
sangat senang,” ucapnya
“aku
juga,” balasku
“terimakasih
karena sudah menemaniku, besok kamu akan kesini lagi kan ?” tanya Stella padaku
“iya,”
jawabku
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar Stella, dan
serentak Stella dan aku terkejut dan bangun.
“ternyata
kau juga bisa melakukan ini !?” ucap seseorang itu yang tidak lain adalah
sepupuku, Aris.
“aku
tidak melakukannya, ini salah paham,”
ucapku mencoba menjelaskan semua ini
“aku
tidak menyangka, kalian ini ternyata berani juga,” ucapnya padaku dan Stella
“aku
hanya mengajarkan cara bermain gitar, tidak lebih,” jelas Stella
“wow,,
sepertinya kalian memang sudah melakukannya, badan kalian gemetaran tuh,” ucap
sepupuku itu
“ii..ini..”
Dan tidak disangka kalau ada orang lain yang masuk
begitu saja, jangan-jangan dia warga disini, bagaimana ini ??
Apakah aku akan ditangkap, dimasukkan kedalam sel
tahanan ?
Atau aku akan dinikahkan dengan Stella ?
Aku tidak tahu harus berbuat apa....
Melihat ada keributan disini, beberapa warga lainnya
juga ikut menyusul dan...
*bersambung....*
Part 03 : terimakasih






0 comments:
Post a Comment