About

Thursday, November 12, 2015

LEGEND OF THE FAINTOIU part 05




LEGEND OF THE FAINTOIU
PART 05

        Astaga, gue lupa kelanjutannya apa, tapi gue akan berusaha membuat story yg gak nyambung lagi, upss... yaudah gue lanjutin saja story LOTF (legend of the faintoiu) walaupun kelanjutannya agak gak nyambung dan cukup membuat bingung.


.,.,.,.,.,.,.,.,.,
            Kepala sekolah memanggil nama gue lagi dengan nada agak tinggi, gue langsung berjalan menghampirinya.

“inilah murid yg sangat tidak mematuhi aturan, hampir setiap hari dia terlambat datang ke sekolah, jadi bapak akan menghukum dia, kira-kira hukuman apa yg cocok buat dia !”
Tidak ada yg menjawab pertanyaan kepala sekolah. Gue Cuma diam dan tidak berbuat apapun.
            “baiklah kalau kalian tidak mau memberi hukuman kepada dia, sekarang kamu (sambil menunjuk gue) push up seratus kali,” Ucapnya, gue gak terlalu protes, gue Cuma membisikan kalau gue juga bisa membaca pikiran, sama seperti kelvin.
Kepala sekolah berubah pikiran, dia mengurangi hukuman menjadi lima puluh, gue rasa itu masih terlalu banyak, jadi gue mengatakan “apakah bapak tidak akan menyesal ?” sambil melihat kepala sekolah, dia menguranginya lagi menjadi 25, gue menggumam “keputusan yg salah,” dia mendengarnya, lalu dia mengurangi lagi hukumannya menjadi 10, gue push up di depan siswa-siswi sebanyak 10 kali.
Mulai saat itu, kepala sekolah baru itu tidak berani lagi bermain-main dengan gue.

3 hari kemudian, tepatnya hari kamis.
Pagi-pagi sekali kami, dibantu oleh kelvin, diego dan achan mulai mempersiapkan untuk konser kami, kami mengambil sound system dari om Nana, kami angkut semuanya ke mobil pick up milik ayah gue, (terus yg jadi supirnya siapa) yg jadi supirnya gue, di jalan gue terus berpikir apa yg kurang yah, gue merasa ada yg tertinggal, tapi apa !!
            Oh iya, gue lupa kalau sebuah konser itu harus ada panggungnya, karena sudah terlanjur kesana, kami jadikan mobil ‘pick up’ nya sebagai panggungnya. Walaupun kecil tapi ini cukup untuk kami berempat, sebelum matahari bersembunyi ke tempatnya, kami the FAINTOIU beraksi walaupun hanya diluar GBK karena kalau di dalam kami pasti langsung diusir petugas keamanannya Lagipula kami juga tidak membeli tiket konser mereka, Diego bertugas mengumpulkan orang, Kelvin mengurus sound systemnya, sedangkan Achan Cuma melihat kami saja.
            Ditengah-tengah musik yg kami bawakan, gue lihat Diego berlari dengan banyak orang dibelakangnya, gue kira itu penontonnya, tapi sesudah mereka mendekat mereka malah melempar kami dengan buah-buahan. Kami semua panik, Achan langsung masuk kedalam mobil, Kelvin langsung tancap gas (untung semuanya ada di atas mobil termasuk kami juga) tapi Gue terjatuh dari mobil dan sekarang tinggal gue dan Diego yg ditinggalkan.
Gue dan Diego berlari dikejar-kejar fans-fans yg tidak suka dengan kami, gue dan Diego memutuskan untuk berpencar.
            Diego berlari menuju mobil pemadam kebakaran, sebenarnya gue tidak tahu kenapa ada mobil pemadam kebakaran,, mungkin untuk berjaga-jaga.
            Sedangkan gue berlari menuju pintu masuk, sebenarnya gue juga tidak tahu kenapa gue berlari ke pintu masuk, gue berlari tanpa kendali hingga gue menabrak kerumunan orang disana. Para personil Metalica datang dan gue sangat merasa aduhhhhhhh,,,, gue ikutan teriak histeris. Walaupun gue tidak membeli tiketnya tapi gue berhasil masuk. Gue menonton konser metalica sampai konsernya selesai.

            Keesokan harinya. Siang setelah pulang sekolah di tempat biasa.
Kali ini ada Kelvin dan Diego. Sedangkan Achan tidak bisa hadir karena dia harus ikut ibunya.
Kriz ; gagal total, kemarin itu sudah gagal total !!
Aris ; kemarin itu kita tidak gagal, Cuma belum berhasil
Zacky ; itu sama saja.
Kelvin ; oh iya, kemarin Diego dan Aris kemana ?
Kriz ; iya kalian kemana saja, gak ikut kita pulang !(sambil menunjuk gue dan diego)

Diego ; bukannya gue gak mau ikut kalian kabur, tapi kalian yg ninggalin gue. Kemarin gue ngumpet di belakang mobil pemadam kebakaran sampe kaki pegal-pegal

Kelvin ; kalo loe Aris, kemana saja kemarin !
Aris ; kalo gue katakan, kalian semua pasti gak bakalan percaya
Ray ; sudahlah katakan saja

Aris ; baiklah, jadi kemarin itu gue terjatuh dari mobil, jadi gue berlari ke kerumunan orang.

Kriz ; loe bisa jelasin lagi, gue gak ngerti !
Aris ; baiklah, jadi kemarin itu gue nonton konsernya metalica
Kelvin ; masa sih, gue gak percaya
Aris ; kan gue sudah bilang kalau kalian pasti gak percaya
Kriz ; mana buktinya kalau loe nonton konsernya metalica kemarin !
Aris ; nih buktinya (sambil menyodorkan gitar yg sudah ditanda tangani oleh 2 personil metalica)

Setelah gue menjelaskan, akhirnya mereka percaya kalau gue kemarin sudah menonton konsernya Metalica, keesokan harinya gue mengajak Ray untuk membeli guitar, karena sayang kalau guitar gue yg sudah bertanda tangan di pake terus menerus jadi gue putuskan untuk membeli gitar yg baru, (sekolahnya ?) waktu sekolah gue skip karena nanti pasti bakalan panjang lebar lagi.
            Gue dan Ray akhirnya sampai juga di toko alat musik, saat pertama gue masuk, hanya terlihat beberapa alat musik saja yg terpajang, gue menanyakan pada pegawai yg sudah agak tua dimana tempatnya gitar, (pegawai toko alat musiknya gue panggil paman yah)  paman itu mengantarkan kami ke ruangan yg semuanya berisi bass, gitar, dan alat musik petik lainnya.
            Ray terlihat sedang memperhatikan bass yg tergantung di depannya, gue bertanya “kenapa ?” dia menjawab “enggak apa-apa, cuman gue suka saja sama bass ini”. Gue berpikir apakah gue membeli bass saja atau gue kembali ke tujuan awal yaitu membeli gitar. Paman itu bertanya kepada kami.
“bagaimana kalau gitar yg ini,” kata paman itu sambil menyodorkan gitar klasik, gue mencobanya, cukup bagus suaranya.
“saya mau beli gitar listrik, bukan gitar akustik” ucap gue kepada paman itu. Lalu paman itu mengambilkan gitar listrik yg cukup menarik.
Gue mencobanya dan gue berkata “cukup menarik, tapi ini terlalu berat, nanti bahu saya pegal-pegal. Bisa ambilkan yg lain !”
Paman itu mengmbilkan gitar yg lain, dan sepertinya gitar yg dibawakannya sangat ringan, waktu gue mencobanya benar saja gitar ini sangat ringan. Gue menyuruh paman itu mengambilkan gitar yg tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan.
Paman itu membawa gitar lagi dan gue mencobanya. “beratnya pas, tapi suaranya kurang bagus, apa ada yg lain ?” ucap gue. “ya, tunggu sebentar !” jawab paman itu.
Lalu paman itu membawa gitarnya lagi, saat gue mencobanya suaranya cukup bagus Tapi penampilannya kurang menarik, gue tidak suka. Kali ini yg memilih gitarnya gue sendiri.
Paman itu kembali membawa gitar yg gue tunjuk tadi, gue mencobanya, suaranya bagus, penampilannya menarik, dan beratnya juga pas. Ini gitar yg gue cari dari tadi.
Aris ; Ray, bagaimana penampilan gue (gue bergaya memakai gitar itu)
Ray ; bagus kak
Aris ; paman, berapa harga gitar ini ?
Paman ; karena anda yg membelinya, saya kasih bonus 25 persen
Aris ; baguslah, tapi penampilan saya cocok tidak ?
Paman ; sangat cocok, anda tidak salah memilih gitar, gitar ini sama persis dengan gitar yg dipakai Bon Jovi
Aris ; sama dengan yg dipakai Bon Jovi yah ?
Paman ; iya, anda sangat beruntung jika membeli gitar ini,
Aris ; oh, trimakasih
Paman ; jadi bagaimana, anda mau membeli yg mana
Aris ; baiklah, saya mau membeli itu (sambil menunjuk bass)
Paman ; anda tidak salah ?? itu sebuah bass bukan gitar
Aris ; tentu saja tidak, ini buat Ray
Ray ; benarkah ???
Aris ; tidak juga, aku Cuma meminjamkannya
Ray ; terima kasih yah kakak !!

            Setelah kami selesai membeli bass, kami pulang dan terlihat paman itu sangat menyesal karena telah menanyakan yg mana yg mau dibeli. Gue membelikan Ray bass karena gue malu hampir setiap hari gue meminjam bass milik om Nana.
            Beberapa hari kemudian, kami mendapat tawaran dari Diego untuk menggantikan band kelvin yaitu ‘S Secreet’ di cafe, pantesan saja saat gue lihat perfom mereka di sekolah mereka terlihat sangat menjiwai, mungkin karena setiap hari mereka manggung di depan banyak orang. Beberapa personil band gue tidak setuju dan hanya gue dan Ray yg menyetujuinya.
Zacky ; main di kafe itu perlu banyak lagu, kita baru hafal beberapa lagu
Aris ; tenang saja,
Kriz ; mamangnya kenapa loe terima tawaran itu ?

Aris ; karen ada tiga faktor, yg pertama supaya kita tidak merasa canggung saat nanti audisi., yg kedua, kita anggap saja ini sebagai latihan., dan yg ketiga, karena g....

Kriz ; ehh tunggu *menghentikan gue* paktor yg ketiga pasti aneh
Aris ; yaudah kalau begitu, gue gak akan sebutin faktor yg ke tiga
Zacky ; tapi gue penasaran sama faktor yg ketiga
Ray ; gue juga penasaran
Kriz ; baiklah, loe sekarang bisa nyebutin faktor yg ketiga !!

Aris ; nahh,, yg ketiga itu karena gue gak punya uang, jadi gue terima saja tawarannya, apalagi kemarin gue beli bass yg harganya cukup mahal.

            Malam harinya kami bersiap untuk tampil, gue diberi uang muka yg lumayan lah untuk jajan beberapa hari. Saatnya pertunjukan kami dimulai, lagu pertama kami membawakan lagu “drive – bersama bintang”, lagu kedua “letto – sebelum cahaya”, lagu ketiga “the beatles – across the universe”, kami berhenti sejenak dan kami mendapat pujian dari pemilik kafe sekaligus memberikan uang tambahan kepada kami. Pemilik kafe itu menyuruh kami membawakan lagu yg akan kami bawakan di festival.kami menyetujuainya.
            Kami bersiap dan langsung membawakan lagu “awas angkot” pengunjung yg ada di sana terlihat ada yg pergi keluar, ada yg kesal, dan juga ada yg melempari kami. Pemilik kafe itu langsung berlari dan menyuruh kami untuk pergi. Ini kegagalan yg kedua.

            *gue lupa kelanjutannya, jadi gue sambung saja dengan kegiatan sekolah*
            Pagi yg indah ditambah lagi gue melihat bidadari yg melewatti gue entah dari mana datangnya,
Aris ; selamat pagi *ucap gue pada veranda*
Ve ; pagi juga, *sambil terus berjalan*
Aris ; entah kenapa hari ini kamu terlihat sangat manis
Ve ; emmh dasar gombal
Aris ; eh, beneran deh,
Ve ; ada apa, ?
Aris ; tidak ada apa-apa
Ve ; tidak biasaya kamu datang sepagi ini !
Aris ; emangnya gak boleh kalo aku datang pagi-pagi
Ve ; bukan begitu, tapi aku jadi inget waktu kita pertama bertemu
Aris ; inget bagian mananya, inget paginya, inget rajinnya, atau inget gantengnya !!
Ve ; sebenarnya aku inget waktu kamu dijewer kepsek yg lama *sambil berlari menuju kelasnya*

            Dalam hati gue berfikir, ‘kenapa juga yah waktu pertama gue malihatnya gue sedang di jewer kepsek yg dulu, tapi tak apalah yg penting waktu itu gue gak dihukum’
            Setiap gue melihat Veranda, kenapa hati gue selalu berdebar dengan kencang yah.. atau mungkin ini pertanda kalau gue menyukainya.
Jam pelajaran pertama dimulai, dan masih gak ada guru yg masuk. otomatis kelas gue jadi yg paling rame dibnding kelas yg lain, ada yg mengobrol, yg asik ngerumpi, yg teriak-triak gak jelas, yg kejar-kejaran, yg main kepal-kapalan kertas (kaya anak kecil), de el el.
Tapi kalau gue sih lebih memilih untuk tiduran dulu sambil menunggu gurunya masuk ke kelas.
            Istirahat telah tiba, tidak seperti biasanya, kali ini gue gak ke kantin biarlah Ray dan teman-temannya makan tanpa gue, gue berjalan menuju kelasnya Diego, gue agak mengintip di pintu dan ternyata kepsek keluar menabrak muka gue *bayangin saja sendiri* gue kaget dan gue langsung minta maaf karena gue takut dihukum dan juga gue takut dikeluarin, bagaimana kalau gue dikeluarin dari sekolah ini karena terlalu banyak melanggar, pasti sengsara hidup gue.
            Kepsek Cuma memandang sinis gue dan pergi begitu saja, ternyata gue masih beruntung.
Diego ; Weyy,,, loe lagi ngapain disini ?
Aris ; loe ngagetin gue saja, gue,, gue lagi...
Diego ; sudah,,, gue tahu  loe pasti lagi merhatiin Veranda kan ?
Aris ; enggak kok,, gue itu mau...,,
Diego ; mau apa ? mau apel yah !!
Aris : kalo gue sih mau mau aja, asal loe yg bayarin
Diego ; maksud gue itu loe mau berduaan dengan ve, bukan apel makanan
Aris ; ee,, sebenarnya gue mau ngajak loe ke kantin,, itu maksud gue
Diego ; ohh,, bilang dong dari tadi, gue juga sudah laper, ayok ahh !

            Gue dan Diego pergi ke kantin, menghampiri Ray, Kriz, dan Zacky (gagal sudah misi gue ngedeketin Veranda, kenapa tadi gue gak jujur saja yah..). gue melihat Achan bergabung dengan teman perempuannya, tapi gue gak lihat Kelvin di kantin, mungkin kali ini dia tidak ke kantin.

            Pulang sekolah (eitzz,, kapan masuknya lagi !!) kan sudah gue bilang gue gak mau ceritain pelajaran di sekolah. Gue dan Ray melihat Veranda sedang berjalan sendiri, saat gue mau menghampirinya tiba-tiba datang mobil jemputannya *yahh,, gagal lagi deh gue PDKT sama dia*
            Hari-hari gue seperti biasanya, dan saking biasanya keesokan harinya gue bangun siang lagi, gue panik saat gue melihat jam yg menunjukan kalau hari sudah tidak pagi lagi, gue sempet berpikir kalau hari ini gue libur saja tapi...

To be continue

dilanjut lagi nanti, di part berikutnya.

0 comments: