LEGEND OF THE FAINTOIU
PART 10
Saat gue membuka pintu
gudang gue melihat Ve dan Ray sedang berduaan di dalam gudang dengan posisi yg
tidak seharusnya, gue ingin menghajar Ray tapi itu tidak akan menyelesaikan
masalah, jadi gue putuskan untuk melaporkannya ke kepala sekolah atau guru yg
lainnya.
Gue langsung berbalik dan meninggalkan mereka
begitu saja, Ray berlari mengejar gue, begitu pula dengan Ve.
“kak,, ini hanya salah
paham,” ucap Ray dari belakang
“aku bisa menjelaskan
semua ini,” pinta Ve sambil memegang tanganku, aku melepaskan pegangannya dan
terus berjalan, mereka masih mengikutiku, menyuruhku berhenti untuk mendengar
penjelasan mereka, hingga gue berhenti di depan ruang kepala sekolah, gue
langsung memasuki ruangan itu meninggalkan Ve dan Ray diluar.
Kepsek yg sedang duduk
terkejut melihat gue masuk dengan tiba-tiba, dia berdiri dan bertanya “kenapa
kamu tidak mengetuk pintu dulu !?”
“maaf
pak,” jawab gue dengan muka datar
“kamu
ini kenapa, ada masalah apa kamu menemui saya ?” tanya dia.
Gue terdiam dan berfikir sejenak,
kalo gue laporkan Ray dan Ve, mereka bisa dikeluarkan dari sekolah ini.
“hei,,
jawab !”
“eh..
iya pak, saya Cuma.. Cuma mau bertanya,”
“bertanya
apa, cepat katakan !” perintah kepala sekolah
“anu
pak.. itu,, ee... apakah bapak melihat ray dan ve ?” kata gue asal, sebenarnya
itu pertanyaan yg gue tanya ke temen-temen
gue sebelum gue bertemu dengan mereka berdua.
“kalo Ray, bapak menyuruhnya untuk mengambil soal ujian tahun kemaren, tapi kalo Veranda bapak tidak tahu,” jawab kepsek
“oh,, kalau begitu trimakasih.”
ucap gue bingung.
Berarti itu semua bukan sepenuhnya
salah Ray, tapi mana mungkin juga kalau Ve sengaja masuk gudang, atau bisa juga Ray yg mengajaknya. Gue tidak bisa menyimpulkannya begitu saja.
“kenapa
kamu masih disini, cepat keluar !!” teriak kepsek.
Gue terkejut dan masih
kebingungan, gue keluar dari ruangan kepala sekolah dan gue melihat Ray dan Ve
duduk berjauhan menunggu gue keluar, gue tidak berani melihat Ve, dan dengan Ray apakah gue membencinya ? mungkin saja karena saat gue melihatnya gue ingin
menjauh, memukulnya, dan tidak ingin melihatnya lagi.
Sore
hari gue tidak datang ke tempat latihan, gue masih bingung dan getaran
handphone pun tidak bisa aku rasakan walau masih berada di saku celana gue,
suara dan getaran hp gue tidak bisa menyadarkanku dari rasa benci, bingung,
marah, sebenarnya apa yg aku rasakan ?
Gue
rasa hp gue tidak berdering lagi, Gue mengambil handphone gue, ada 26 pesan
masuk dan 49 panggilan tak terjawab, ada pesan minta maaf dari ve dan ray dan
ada juga pesan untuk mengingatkan gue kalau hari ini latihan, gue menghiraukan
semuanya dan berbaring di tempat tidur gue.
##
*Kejadian sebenarnya di gudang
sekolah*
Ray
disuruh kepala sekolah untuk mengambil kertas ujian tahun lalu, Ray menurutinya
dan pergi ke gudang. Sementara itu Veranda hanya berjalan-jalan saja sampai ia
mendengar sesuatu di dalam gudang yg sebenarnya itu adalah Ray yg sedang
mencari kertas ujian.
Karena penasaran Veranda masuk ke
dalam gudang untuk memeriksanya, ia menutup pintunya. Dan baru beberapa langkah
ia berjalan tiba-tiba Ray menabraknya dan mereka jatuh dengan posisi yg salah, di
dalam ruangan yg gelap memungkinkan mereka untuk tidak melihat dengan jelas
apalagi Ray sedang membawa setumpuk kertas ujian.
##
Pagi
yg cerah, namun sayang tidak secerah hati gue, entah mengapa gue berangkat
kesekolah sangat pagi, disekolah masih terlihat sepi, ditambah Kelvin dan s
secreet tidak akan kesekolah karena mereka datang ke vestifal, oh iya, band Veranda juga akan datang ke festival.
Di
dalam kelas gue memilih bangku paling pojok karena gue tidak mau sebangku
dengan Ray, bel istirahat berbunyi, Kriz dan Zacky mengingatkan gue untuk
datang ke vestifal nanti malam, gue hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa,
sepertinya mereka belum tahu masalah gue dengan Ray.
Sore
hari yg seharusnya gue datang untuk latihan, gue mengurung diri di kamar tanpa
mengaktifkan hp gue.
“tok,,
tok, tok..” terdengar kalau ada tamu yg hendak berkunjung kerumah, ibuku
membukakan pintu dan yg disana adalah Ray.
“Aris,,
ada Ray mengajak main,” teriak ibu gue
Gue hanya terdiam
“Aris
cepat keluar, dia mau mengajak kamu latihan !” sahut ibu gue
“aku
sedang tidak enak badan bu.” jawab gue sedikit berteriak
“sepertinya dia sedang sakit, hari
ini dia tidak bisa latihan, semenjak pulang sekolah dia mengurung diri dikamar.”
ucap ibu gue pada Ray
“oh,, kalo begitu maaf sudah
mengganggu, tapi bilang pada kak Aris kalo aku minta maaf.” pinta Ray
“kalian bertengkar yah, yasudah nanti
ibu sampaikan,” jawab ibu gue
Ray
pergi sedangkan ibu gue menyampaikan permintaan maaf Ray pada gue.
Malam hari, gue pergi menuju tempat
dimana kami akan perfom di vestifal, gue dan teman-teman the faintoiu berkumpul
dan sepertinya Kriz dan Zacky sudah tahu kalau gue sedang bertengkar dengar Ray.
Sudah
saatnya The faintoiu tampil tapi gue sangat tidak bersemangat, entah apa yg gue
pikirkan tapi gue sangat membenci Ray.
“ssttt,,
sstt...” bisik seseorang padaku
“kakak,,”
sahut seseorang dari belakang
Gue tersadar kalau gue tidak
bernyanyi, gue melupakan sesuatu, gue mengacaukan pertunjukannya, gue
mengangkat tangan memerintahkan the faintoiu untuk berhenti.
“loe
itu kenapa sih ?” teriak Kriz
“kita
sedang kontes, tapi loe malah melamun,” sambung Zacky
“gue
tidak mau sepanggung dengan orang ini !” ucap gue sambil menunjuk Ray
“kak,,
maafkan aku,” pinta Ray
Gue tidak menjawabnya
“hey,,
seharusnya kalian jangan campur adukkan masalah kalian dengan the faintoiu,”
ucap Kriz
“kalian
benar, gue seharusnya tidak membawa masalah gue dengan Ray disini,” balas gue
“jadi
bagaimana dengan kita, dengan the faintoiu ?” ucap Zacky
Gue terdiam sejenak dan suasana
menjadi hening, juri juga tidak bisa berkata apa-apa
“gue
keluar !” ucap gue seketika meninggalkan mereka, semuanya terkejut termasuk juri
yg menilai kami.
Melihat gue pergi, Kriz
langsung mengejar gue untuk meminta kepastian sementara Zacky kebingungan untuk
mengejar gue bersama Kriz atau menemani Ray.
Gue bilang pada Kriz
kalau the faintoiu sudah bubar,
Kriz : bagaimana dengan tujuan kita
menjadi legenda
Aris : itu hanya sebuah tujuan, bukan
cita-cita
Kriz : gue mengerti tapi perjuangan
kita selama ini akan sia-sia
Aris : iya, gue sudah siap untuk
dibenci oleh kalian
Gue
meninggalkan Kriz yg terhenti setelah menengar perkataan gue, gue pergi ke
markas the faintoiu untuk mengambil gitar gue, setelah itu gue pulang kerumah.
Sepertinya
semalaman gue tidak bisa tertidur, gue pergi ke sekolah tanpa terlambat lagi, gue
duduk paling pojok sendirian, gue tidak mau bertemu dengan Ray lagi.
Bel
pertanda pelajaran berakhir berbunyi, gue langsung mengemas buku-buku gue dan
pulang, Kriz mengejar gue dari belakang.
Kriz : aris tunggu dulu
Aris : ada apa ?
Kriz : loe beneran kalo the faintoiu
bubar ?
Aris : iya, kalo loe tidak terima loe
boleh membenci gue
Kriz : gue tidak akan membenci loe,
tapi setidaknya loe dan Ray saling berbaikan
Aris : jangan pernah sebut nama itu
lagi di depan gue *mengancam*
Kriz : i.. iya maaf
“ris..
tunggu !” teriak seseorang
Gue langsung berjalan, sedangkaan Kriz berbalik untuk melihat siapa yg berteriak.
“bukan
kamu, tapi aris,”
Kriz kebingungan, tanpa berpikir
panjang Kriz mengejar gue.
“hey Aris,, Veranda mau
ngomong sesuatu.” teriak kriz dari belakang.
Gue tidak menghiraukannya dan terus
berjalan
“Aris,,
aku mau menjelaskan semuanya,” sahut Ve,
Gue masih berjalan
“Aris,,
tunggu dulu sebentar !”
Gue tidak mendengarkan perkataannya
dan terus berjalan
“Aris,,
aku mau minta maaf,”
Ingin rasanya gue berhenti tapi gue
putuskan untuk tidak berhenti
“Aris,,
aku menyukaimu.”
Seketika langkah gue terhenti
“aku
menyukaimu, aku bisa menjelaskan semua yg ..”
“lebih
baik kamu diam !” ucap gue memotong perkataan Ve
“kita
bisa bicarakan semua ini baik-baik !” pinta Ve
“gue
gak butuh penjelasan loe,” ucap gue sembari berbalik dan meninggalkan Ve
“aku
mohon, dengarkan aku !” Ve memohon sambil memegang tangan gue
“apa
yg ingin loe katakan ?” kata gue
“sebelumnya
aku mau minta maaf dan me..”
“gue
gak mau maafin loe, jadi sekarang loe boleh pergi” ketus gue
“kenapa
?”
“gue
sudah membenci loe, jadi jangan berharap ..”
“bagaimana
kalo aku mencintaimu ?” ucap Ve memotong jawaban gue
“itu
hanya ucapanmu saja, bukan dari hati. Kebencian gue lebih besar dibanding cinta
gue.”
“tak
apa kalo kamu membenciku aku bisa mengerti, tapi setidaknya kamu maafin Ray,”
pinta Ve
“loe
tidak mengerti apa yg gue rasakan, dan gue gak akan maafin loe dan ray.”
“kalian
sudah seperti saudara, kanapa kamu tidak memaafkan Ray hanya karena salah
paham ?” jelas Ve
“ini
semua karena loe.” balas gue
Ve terdiam sejenak
“iya,
ini memang salahku, aku akan melakukan apa saja asal kamu maafin Ray,” ucap Ve
“loe
belum mengenal gue sepenuhnya, gue bisa bertindak kejam pada siapapun tidak
terkecuali loe dan Ray, dasar wanita murahan.” ancam gue
Veranda menatap kearah
gue dengan mata yg berkaca-kaca sampai akhirnya air matanya menetes, ingin
rasanya gue mengusap air matanya namun aku tidak bisa.
Ve
seolah tidak percaya dengan apa yg gue katakan tadi, gue berjalan
meninggalkannya begitu saja. Belum terlalu jauh gue berjalan tiba-tiba Ray
menghadang gue.
Ray : kak, aku mau minta maaf
Aris : minggir
Ray : aku tidak akan menyingkir
sampai kakak memaafkanku
Aris : gue gak akan memaafkanmu
Ray : aku menganggap kakak lebih dari
sekedar sahabat
Aris : gue tidak peduli
Ray : aku menganggap kakak adalah
kakak kandungku
Aris : sudah gue bilang, gue gak
peduli *teriak gue kesal*
Ray : aku dan Ve tidak ada hubungan
apa-apa
Aris : jika loe tidak menyingkir, gue
akan menghajar loe
Ray : aku tidak peduli dan jika kakak
menghajarku aku tidak akan melawannya
Gue memegang kerah baju Ray dan mendorongnya ke tembok sekolah, gue melihat sekeliling ternyata lumayan
sepi karena orang-orang sudah pulang.
“jika loe bicara sekali
lagi, gue akan menghajar loe habis-habisan !” ancam gue pada Ray
“jika sekarang kakak
menghajarku, aku tidak akan melawan,” balas Ray
Gue kesal, terdengar suara
kaki seseorang yg seang berlari yg tidak lain adalah Veranda. Ve melihat gue dari
jarak yg tidak terlalu jauh.
“aku dan Ve tidak
melakukan apa-apa,” ucap Ray
“diam !” teriak gue
“itu semua hanya salah
paham,”
“sudah gue bilang
jangan bicara lagi !” ucap gue.
Gue bingung, apa yg harus gue
lakukan.
“maafkan
a..”
Belum selesai dia bicara, amarah gue
sudah meluap-luap, gue mengepalkan tangan gue sekuat tenaga dan gue
mengarahkannya ke arah kepala Ray. Gue gak bisa menahan emosi gue lagi dan
terlihat banyak darah yg keluar, semuanya terkejut dan ..
To be continue..






0 comments:
Post a Comment