About

Wednesday, December 23, 2015

LEGEND OF THE FAINTOIU part 10



LEGEND OF THE FAINTOIU
PART 10

        Saat gue membuka pintu gudang gue melihat Ve dan Ray sedang berduaan di dalam gudang dengan posisi yg tidak seharusnya, gue ingin menghajar Ray tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah, jadi gue putuskan untuk melaporkannya ke kepala sekolah atau guru yg lainnya.
 Gue langsung berbalik dan meninggalkan mereka begitu saja, Ray berlari mengejar gue, begitu pula dengan Ve.

“kak,, ini hanya salah paham,” ucap Ray dari belakang
“aku bisa menjelaskan semua ini,” pinta Ve sambil memegang tanganku, aku melepaskan pegangannya dan terus berjalan, mereka masih mengikutiku, menyuruhku berhenti untuk mendengar penjelasan mereka, hingga gue berhenti di depan ruang kepala sekolah, gue langsung memasuki ruangan itu meninggalkan Ve dan Ray diluar.
Kepsek yg sedang duduk terkejut melihat gue masuk dengan tiba-tiba, dia berdiri dan bertanya “kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu !?”
            “maaf pak,” jawab gue dengan muka datar
            “kamu ini kenapa, ada masalah apa kamu menemui saya ?” tanya dia.
Gue terdiam dan berfikir sejenak, kalo gue laporkan Ray dan Ve, mereka bisa dikeluarkan dari sekolah ini.
            “hei,, jawab !”
            “eh.. iya pak, saya Cuma.. Cuma mau bertanya,”
            “bertanya apa, cepat katakan !” perintah kepala sekolah
            “anu pak.. itu,, ee... apakah bapak melihat ray dan ve ?” kata gue asal, sebenarnya itu pertanyaan yg gue tanya ke temen-temen  gue sebelum gue bertemu dengan mereka berdua.
            “kalo Ray, bapak menyuruhnya untuk mengambil soal ujian tahun kemaren, tapi kalo Veranda bapak tidak tahu,” jawab kepsek
“oh,, kalau begitu trimakasih.” ucap gue bingung.
Berarti itu semua bukan sepenuhnya salah Ray, tapi mana mungkin juga kalau Ve sengaja masuk gudang, atau bisa juga Ray yg mengajaknya. Gue tidak bisa menyimpulkannya begitu saja.
            “kenapa kamu masih disini, cepat keluar !!” teriak kepsek.

Gue terkejut dan masih kebingungan, gue keluar dari ruangan kepala sekolah dan gue melihat Ray dan Ve duduk berjauhan menunggu gue keluar, gue tidak berani melihat Ve, dan dengan Ray apakah gue membencinya ? mungkin saja karena saat gue melihatnya gue ingin menjauh, memukulnya, dan tidak ingin melihatnya lagi.
            Sore hari gue tidak datang ke tempat latihan, gue masih bingung dan getaran handphone pun tidak bisa aku rasakan walau masih berada di saku celana gue, suara dan getaran hp gue tidak bisa menyadarkanku dari rasa benci, bingung, marah, sebenarnya apa yg aku rasakan ?
            Gue rasa hp gue tidak berdering lagi, Gue mengambil handphone gue, ada 26 pesan masuk dan 49 panggilan tak terjawab, ada pesan minta maaf dari ve dan ray dan ada juga pesan untuk mengingatkan gue kalau hari ini latihan, gue menghiraukan semuanya dan berbaring di tempat tidur gue.

##
*Kejadian sebenarnya di gudang sekolah*
            Ray disuruh kepala sekolah untuk mengambil kertas ujian tahun lalu, Ray menurutinya dan pergi ke gudang. Sementara itu Veranda hanya berjalan-jalan saja sampai ia mendengar sesuatu di dalam gudang yg sebenarnya itu adalah Ray yg sedang mencari kertas ujian.
Karena penasaran Veranda masuk ke dalam gudang untuk memeriksanya, ia menutup pintunya. Dan baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba Ray menabraknya dan mereka jatuh dengan posisi yg salah, di dalam ruangan yg gelap memungkinkan mereka untuk tidak melihat dengan jelas apalagi Ray sedang membawa setumpuk kertas ujian.
##

            Pagi yg cerah, namun sayang tidak secerah hati gue, entah mengapa gue berangkat kesekolah sangat pagi, disekolah masih terlihat sepi, ditambah Kelvin dan s secreet tidak akan kesekolah karena mereka datang ke vestifal, oh iya, band Veranda juga akan datang ke festival.
            Di dalam kelas gue memilih bangku paling pojok karena gue tidak mau sebangku dengan Ray, bel istirahat berbunyi, Kriz dan Zacky mengingatkan gue untuk datang ke vestifal nanti malam, gue hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, sepertinya mereka belum tahu masalah gue dengan Ray.

            Sore hari yg seharusnya gue datang untuk latihan, gue mengurung diri di kamar tanpa mengaktifkan hp gue.
            “tok,, tok, tok..” terdengar kalau ada tamu yg hendak berkunjung kerumah, ibuku membukakan pintu dan yg disana adalah Ray.
            “Aris,, ada Ray mengajak main,” teriak ibu gue
Gue hanya terdiam
            “Aris cepat keluar, dia mau mengajak kamu latihan !” sahut ibu gue
            “aku sedang tidak enak badan bu.” jawab gue sedikit berteriak

“sepertinya dia sedang sakit, hari ini dia tidak bisa latihan, semenjak pulang sekolah dia mengurung diri dikamar.” ucap ibu gue pada Ray
“oh,, kalo begitu maaf sudah mengganggu, tapi bilang pada kak Aris kalo aku minta maaf.” pinta Ray
“kalian bertengkar yah, yasudah nanti ibu sampaikan,” jawab ibu gue
            Ray pergi sedangkan ibu gue menyampaikan permintaan maaf Ray pada gue.

Malam hari, gue pergi menuju tempat dimana kami akan perfom di vestifal, gue dan teman-teman the faintoiu berkumpul dan sepertinya Kriz dan Zacky sudah tahu kalau gue sedang bertengkar dengar Ray.
            Sudah saatnya The faintoiu tampil tapi gue sangat tidak bersemangat, entah apa yg gue pikirkan tapi gue sangat membenci Ray.
            “ssttt,, sstt...” bisik seseorang padaku
            “kakak,,” sahut seseorang dari belakang
Gue tersadar kalau gue tidak bernyanyi, gue melupakan sesuatu, gue mengacaukan pertunjukannya, gue mengangkat tangan memerintahkan the faintoiu untuk berhenti.
            “loe itu kenapa sih ?” teriak Kriz
            “kita sedang kontes, tapi loe malah melamun,” sambung Zacky
            “gue tidak mau sepanggung dengan orang ini !” ucap gue sambil menunjuk Ray
            “kak,, maafkan aku,” pinta Ray
Gue tidak menjawabnya
            “hey,, seharusnya kalian jangan campur adukkan masalah kalian dengan the faintoiu,” ucap Kriz
            “kalian benar, gue seharusnya tidak membawa masalah gue dengan Ray disini,” balas gue
            “jadi bagaimana dengan kita, dengan the faintoiu ?” ucap Zacky

Gue terdiam sejenak dan suasana menjadi hening, juri juga tidak bisa berkata apa-apa

            “gue keluar !” ucap gue seketika meninggalkan mereka, semuanya terkejut termasuk juri yg menilai kami.
Melihat gue pergi, Kriz langsung mengejar gue untuk meminta kepastian sementara Zacky kebingungan untuk mengejar gue bersama Kriz atau menemani Ray.
Gue bilang pada Kriz kalau the faintoiu sudah bubar,
Kriz : bagaimana dengan tujuan kita menjadi legenda
Aris : itu hanya sebuah tujuan, bukan cita-cita
Kriz : gue mengerti tapi perjuangan kita selama ini akan sia-sia
Aris : iya, gue sudah siap untuk dibenci oleh kalian

            Gue meninggalkan Kriz yg terhenti setelah menengar perkataan gue, gue pergi ke markas the faintoiu untuk mengambil gitar gue, setelah itu gue pulang kerumah.

            Sepertinya semalaman gue tidak bisa tertidur, gue pergi ke sekolah tanpa terlambat lagi, gue duduk paling pojok sendirian, gue tidak mau bertemu dengan Ray lagi.

            Bel pertanda pelajaran berakhir berbunyi, gue langsung mengemas buku-buku gue dan pulang, Kriz mengejar gue dari belakang.
Kriz : aris tunggu dulu
Aris : ada apa ?
Kriz : loe beneran kalo the faintoiu bubar ?
Aris : iya, kalo loe tidak terima loe boleh membenci gue
Kriz : gue tidak akan membenci loe, tapi setidaknya loe dan Ray saling berbaikan
Aris : jangan pernah sebut nama itu lagi di depan gue *mengancam*
Kriz : i.. iya maaf

            “ris.. tunggu !” teriak seseorang
Gue langsung berjalan, sedangkaan Kriz berbalik untuk melihat siapa yg berteriak.
            “bukan kamu, tapi aris,”
Kriz kebingungan, tanpa berpikir panjang Kriz mengejar gue.
“hey Aris,, Veranda mau ngomong sesuatu.” teriak kriz dari belakang.
Gue tidak menghiraukannya dan terus berjalan
            “Aris,, aku mau menjelaskan semuanya,” sahut Ve,
Gue masih berjalan
            “Aris,, tunggu dulu sebentar !”
Gue tidak mendengarkan perkataannya dan terus berjalan
            “Aris,, aku mau minta maaf,”
Ingin rasanya gue berhenti tapi gue putuskan untuk tidak berhenti
            “Aris,, aku menyukaimu.”
Seketika langkah gue terhenti
            “aku menyukaimu, aku bisa menjelaskan semua yg ..”
            “lebih baik kamu diam !” ucap gue memotong perkataan Ve
            “kita bisa bicarakan semua ini baik-baik !” pinta Ve
            “gue gak butuh penjelasan loe,” ucap gue sembari berbalik dan meninggalkan Ve
            “aku mohon, dengarkan aku !” Ve memohon sambil memegang tangan gue
            “apa yg ingin loe katakan ?” kata gue
            “sebelumnya aku mau minta maaf dan me..”
            “gue gak mau maafin loe, jadi sekarang loe boleh pergi” ketus gue
            “kenapa ?”
            “gue sudah membenci loe, jadi jangan berharap ..”
            “bagaimana kalo aku mencintaimu ?” ucap Ve memotong jawaban gue
            “itu hanya ucapanmu saja, bukan dari hati. Kebencian gue lebih besar dibanding cinta gue.”
            “tak apa kalo kamu membenciku aku bisa mengerti, tapi setidaknya kamu maafin Ray,” pinta Ve
            “loe tidak mengerti apa yg gue rasakan, dan gue gak akan maafin loe dan ray.”
            “kalian sudah seperti saudara, kanapa kamu tidak memaafkan Ray hanya karena salah paham ?” jelas Ve
            “ini semua karena loe.” balas gue
Ve terdiam sejenak
            “iya, ini memang salahku, aku akan melakukan apa saja asal kamu maafin Ray,” ucap Ve
            “loe belum mengenal gue sepenuhnya, gue bisa bertindak kejam pada siapapun tidak terkecuali loe dan Ray, dasar wanita murahan.” ancam gue
Veranda menatap kearah gue dengan mata yg berkaca-kaca sampai akhirnya air matanya menetes, ingin rasanya gue mengusap air matanya namun aku tidak bisa.
            Ve seolah tidak percaya dengan apa yg gue katakan tadi, gue berjalan meninggalkannya begitu saja. Belum terlalu jauh gue berjalan tiba-tiba Ray menghadang gue.
Ray : kak, aku mau minta maaf
Aris : minggir
Ray : aku tidak akan menyingkir sampai kakak memaafkanku
Aris : gue gak akan memaafkanmu
Ray : aku menganggap kakak lebih dari sekedar sahabat
Aris : gue tidak peduli
Ray : aku menganggap kakak adalah kakak kandungku
Aris : sudah gue bilang, gue gak peduli *teriak gue kesal*
Ray : aku dan Ve tidak ada hubungan apa-apa
Aris : jika loe tidak menyingkir, gue akan menghajar loe
Ray : aku tidak peduli dan jika kakak menghajarku aku tidak akan melawannya

Gue memegang kerah baju Ray dan mendorongnya ke tembok sekolah, gue melihat sekeliling ternyata lumayan sepi karena orang-orang sudah pulang.
“jika loe bicara sekali lagi, gue akan menghajar loe habis-habisan !” ancam gue pada Ray
“jika sekarang kakak menghajarku, aku tidak akan melawan,” balas Ray
Gue kesal, terdengar suara kaki seseorang yg seang berlari yg tidak lain adalah Veranda. Ve melihat gue dari jarak yg tidak terlalu jauh.
“aku dan Ve tidak melakukan apa-apa,” ucap Ray
“diam !” teriak gue
“itu semua hanya salah paham,”
“sudah gue bilang jangan bicara lagi !” ucap gue.
Gue bingung, apa yg harus gue lakukan.
            “maafkan a..”
Belum selesai dia bicara, amarah gue sudah meluap-luap, gue mengepalkan tangan gue sekuat tenaga dan gue mengarahkannya ke arah kepala Ray. Gue gak bisa menahan emosi gue lagi dan terlihat banyak darah yg keluar, semuanya terkejut dan ..

To be continue..

0 comments: